Sebenernya udah nontonnya minggu lalu, tapi baru inget kalo mau nulis tentang film ini. Kalo udah nonton Sliding Doors, menurut gue film ini temanya sama. How your whole life could change just because one single moment in your past. Asli, keren banget! Sayangnya ada yang gak setuju, ada aja yang bilang filmnya aneh. Padahal sumpah deh, keren benge..
Abis nonton tuh film gue jadi annoying berat gitu. Keluar dari bioskop dilema, mau lewat atas ato lewat bawah. Abis itu dilema lagi, mau makan atau mau nongkrong. Trus dilema lagi, mau makan di mana. Semua keputusan can change my whole future! Siapa tau gue memilih restoran yang salah, padahal harusnya gue masuk ke dalam restoran di mana gue akan ketemu calon suami gue? Ato seseorang yang gue kenal dan ngasih proyekan? :roll: Too many choices! Untung fase dilemanya gak lama2 (yah, paling cuman bertahan sekitar 10 menit).
Afterward, gue jadi wondering lagi . Kl gue waktu kuliah memutuskan masuk Atma aja, gimana ya. Kl gue abis lulus langsung kerja aja, gimana ya. Kl waktu itu gue gak bawa seseorang, gue akan masih temenan gak ya sama orang itu. Arrrgghh... Ternyata masih belum bisa forgive and forget.. (lihat posting2 di bawah)
Kemaren baru kenalan sama temen baru yang udah kerja, trus doi konsultasi (sama temennya yang temen gue, bukan sama gue) kenapa duitnya abis mulu. Padahal gajinya (setau gue) lumayan gede, kayaknya sih di atas 2 jutaan. Jumlah segitu tiap bulan pasti abis tanpa ada yang bisa di save.
Akhirnya temen gue (yang lama) mengusulkan untuk men-save duit per hari 10 ribu perak. Katanya, setelah nonton Oprah, duit itu bisa buat tabungan hari tua. setelah melalui proses perhitungan yang memusingkan, kl setiap hari nabung 10 ribu dan duitnya didepositoin, ternyata by the time lo umur 60an, lo akan punya duit sekitar 150 juta. Temen gue antusias bgt gt, sedangkan gue dan temen baru itu geleng2. Emang di tahun 2050 uang segitu akan ada artinya? Lagian buat apa punya duit banyak umur segitu? Gak bisa hura2. Gak bisa buat jalan2 ke mana2 (abis tubuhnya kan udah renta). Paling buat anak kawin. Huh, capek2 nabung kok buat orang lain. Hihihi.. mentang2 belum punya anak bisa egois.
Anyway, akhirnya karena terlalu capek menghitung kita semua ketiduran dan pas bangun udah gak ada lagi yang even bother untuk bikin kesimpulan dan diskusi keuangan kita tadi. Tapi kalo dipikir2, saran 10 ribu rupiah itu sebenernya worth a shot, at least tiap akhir taun lo akan punya duit Rp. 3.650.000,00,- Lumayan buat bekal taun baruan di Bali ato singapur gitu..
Gue bakal kawin sama Josh Hartnett!! (katanya kuis)
Nih kuis oke berat dah.. It can really tell what kind of a man that I wanna marry.
You are going to Marry Josh Hartnett. He is really shy, but don't let that fool you. He is really outgoing and sweet with those he loves and will be loyal to them for the rest of his life. Congrats!!
Yeah, I know masih lama lagi gue punya anak (not too long I hope), kawin aja belum, tapi suka kepikiran aja nama anak gue nantinya.
So here's my future child's name : Kalo cowo namanya [b]Muhammad Armando [/b]! (yeah yeah, laugh all you want, I think it's a very nice name) I'm thinking to put a middle name in it but can't really decide. Nah, kalo cewe nih yang jadi masalah. Gue bener2 gak bisa kebayang mau punya anak cewe dengan nama apa. Pinginnya sih yang ada first-middle-last name nya, trus pengennya juga yang gak terlalu tradisional, biar kalo ke luar negeri gampang (hehehe, dari belum lahir udah direncanakan gitu masa depannya).
Extraversion (71%) high which suggests you are very talkative, optimistic, and sociable but possibly not very reflective. Neuroticism (64%) moderately high which suggests you are worrying, insecure, emotional, and nervous. Psychoticism (51%) medium which suggests you are moderately offensive, uncooperative, and rebellious.
This guy supposed to be my husband! Yeah, in another lifetime.. Too bad he's already happily married to Louise Nurding (former vocalist for Eternal). For those who have no idea who this is, let me introduce Jamie Redknapp, football player. Formerly in Liverpool, now in... mmmm... I forgot.. Anyway, this guy's hot hot hot!
Mungkin gue kebanyakan nonton pelm hollywood ya. kayaknya kalo di luar (menurut film2 itu), seorang cowo bilang "I Love You" ke cewe (or the other way around)tuh bener2 dalem bgt meaningnya. Artinya tuh cowo bener2 punya perasaan sayang ke cewe itu. Tapi kok gak gitu ya di sini? Sepenglihatan dan sepengetahuan gue, kayaknya cowo2 di sini gampang ngomong ILU ke cewe, padahal perasaannya gak sedalem itu. I don't know if it's the culture atau karena beda bahasa jadi gak terlalu dalem ya? (kali kalo ngomong "Aku Cinta Kamu" akan lebih berat dan perasaannya lebih dalem. tapi kok agak jayus ya? gampangan ngomong ILU).
------------------------- ------------------------- ---------------- Congratulations, Asti! Your IQ score is 129
This number is based on a scientific formula that compares how many questions you answered correctly on the Classic IQ Test relative to others.
Your Intellectual Type is Visual Mathematician. This means you are gifted at spotting patterns — both in pictures and in numbers. These talents combined with your overall high intelligence make you good at understanding the big picture, which is why people trust your instincts and turn to you for direction — especially in the workplace. ------------------------- ------------------------- ---------------- :wink:
I don't know who created this poem (or essay or something like that, see for yourself lah), I got it from email couple of years ago. Sungguh deh, ini ceritanya sedih banget (at least buat gue sih).. hikss..
------------------------- ------------------------- ---------------- As I sat there in english class, I stared at the girl next to me. She was my so called 'best friend'. I stared at her long, silky hair, and wished she was mine. But she didn't notice me like that, and I knew it. After class, she walked up to me and asked me for the notes she had missed the day before. I handed them to her. She said 'thanks' and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I dont want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I dont know why.
11th grade The phone rang. On the other end, it was her. She was in tears, mumbling on and on about how her love had broke her heart. She asked me to come over because she didn't want to be alone, so I did. As I sat next to her on the sofa, I stared at her soft eyes, wishing she was mine. After 2 hours, one Drew Barrymore movie, and three bags of chips, she decided to go to sleep. She looked at me, said 'thanks' and gave me a kiss on the cheak. I want to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I dont know why.
Seinor year The day before prom she walked to my locker. "My date is sick" she said, hes not gonna go" well, I didn't have a date, and in 7th grade, we made a promise that if neither of us had dates, we would go together- just as 'best friends'. So we did. Prom night, after everything was over, I was standing at her front door step. I stared at her as she she smiled at me and stared at me with her crystal eyes. I want her to be mine, but she doesn't think of me like that, and I know it. Then she said- "I had the best time, thanks!" and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I dont want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.
A day passed, then a week, then a month. Before I could blink, it was graduation day. I watched as her perfect body floated likean angle up on stage to get her diploma. I wanted her to be mine- but she didn't notice me like that, and I knew it. Before everyone went home, she came to me in her smock and hat, and cried as i hugged her. Then she lifted her head from myshoulder and said- 'you're my best friend, thanks' and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I dont want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.
Now I sit in the pews of the church. That girl is getting married. That girl is getting married now. I watched her say 'i do' and drive off to her new life, married to another man. I wanted her to be mine, but she didn't see me like that, and I knew it. But before she drove gtaway, she came to me and said 'you came!'. She said 'thanks' and kissed me on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I dont want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.
Years passed, I looked down at the coffin of a girl who used to be my 'best friend'. At the service, they read a diary entry she had wrote in her high school years. This is what it read:
I stare at him wishing he was mine; but he doesn't notice me like that, and I know it. I want to tell him, I want him to know that I don't want to be just friends, I love him but I'm just too shy, and I don't know why. I wish he would tell me he loved me! 'I wish I did too...' I thought to my self, and i cried. ------------------------- ------------------------- ----------------
Morale of the story : don't be afraid to show the one that you love you you feel about him/her, before it's too late..
“Tuh kan bener!!!” Noni berteriak puas sambil menyodorkan majalah yang lagi dia baca di hadapan Dinna. “Baca tuh! Semua kelakuan Ressy yang aneh udah ketauan sebabnya!”
Dinna merebut majalah itu dari tangan Noni dan membaca judulnya. “Tujuh tanda cowok kamu nyeleweng,” Dinna menoleh ke arah sahabatnya yang lagi tersenyum puas. “Ayo, baca aja terus!”
“Lo bener-bener percaya ya kalo Ressy nyeleweng?”
“Udah deh, baca aja dulu, entar baru ngomong lagi.”
Dinna meneruskan bacaannya “Tanda pertama, dia sering menghindari kamu dengan seribu satu alasan. Tanda dua, dia sering keliatan lebih rapi padahal tidak ada rencana pergi sama kamu. Tanda ketiga, mobilnya menjadi lebih bersih dan wangi. Tanda keempat, kalo kamu nelpon ke rumahnya, dia sering tidak ada dan baru membalas telpon kamu waktu udah malam. Tanda kelima, kamu mulai jarang jalan sama dia. Tanda keenam, kalo diajak ngomong, suka gak meratiin omongan kamu. Tanda ketujuh, dia jadi lebih sering mengkritik dandanan kamu.”
“Tuh, kan ! Ressy udah nunjukin 6 dari 7 tanda selingkuh. Dinna! Gue yakin banget deh, sekarang dia lagi nyeleweng sama cewek lain!”
Dinna ngeliatin artikel yang barusan dibacanya dan berusaha mengingat tingkah-laku Ressy yang emang aneh belakangan ini.
Noni merebut tabloid dari Dinna dan menegaskan. “Tanda pertama, Ressy kalo pulang kuliah dan kamu ajak jalan suka menghindar dan bilang kalo lagi banyak tugas lah, paper lah.. ya kaaaan? Tanda kedua, peratiin deh, sekarang kalo kuliah dia udah jarang pake celana jeans, seringnya pake kemeja sama celana bahan. Tanda ketiga, lo juga liat kan? Mobilnya yang dulu berantakan banget sekarang jadi bersihan. Trus.. eh, Dinna, lo dengerin gue gak sihh??” katanya sambil nonjok tangan Dinna.
“Ya maap! Gue lanjutin ya. Tanda keempat, dia gak pernah ada di rumah kalo enggak malem kan? Trus sekarang elo juga udah jarang banget pergi sama dia, palingan Sabtu-Minggu, padahal dulu kan lo berdua paling sering jalan bareng. Tanda keenam juga, lo sendiri yang bilang kalo akhir-akhir ini Ressy kalo diajak ngomong suka ngelamun dan gak meratiin elo. Nah, liat sendiri kan? Semua bukti-buktinya udah ada. Lo masih mo nyangkal juga?”
Dinna cuman bisa bengong mendengarkan penjelasan Noni yang memang masuk akal semua. “Tapi masak sih Non, dia nyeleweng? Aduh, kayaknya gak mungkin banget deh. Gue kan udah pacaran sama dia udah 2 tahun? Gue udah sayang mampus gitu sama dia.”
“Naah, kalo menurut penelitian,” Noni menerangkan dengan gaya sok tahu, “cowok tuh kalo udah pacaran serius lumayan lama, mereka jadinya bosen dan nyari hiburan laen. Salah satu hiburannya ya, cari cewek laen. Lagian, cowok bangga lagi Dinna, kalo bisa nyeleweng gak ketauan.”
Memang dasarnya Noni bakat jadi salesgirl, Dinna yang tadinya gak percaya kalo Ressy nyeleweng jadi rada-rada kepengaruh juga.
Dinna sama Ressy sudah pacaran dari waktu SMA, dan sekarang mereka kuliah satu kampus, tapi beda fakultas. Udah dari 3 bulanan yang lalu Ressy jadi rada aneh sih, yah semua yang tadi disebutin Noni itu deh. Kalo ditanyain ada apa, Ressynya bilang kalo dianya lagi bosen aja kuliah, jadi lagi pengen jarang di kampus. Tapi emang Dinna orangnya juga cuek, jadinya doi rada gak nyaho kalo cowoknya lagi beda aja.
“Dinna, kalo nasehat gue ya, lo mendingan mulai curiga deh. Elu kan orangnya polos banget tuh, jadinya percaya aja kalo Ressy ngomong apa. Nah, mulai sekarang lo peratiin banget deh cowok lu, kali-kali aja lu bisa dapet bukti yang lebih meyakinkan. Abisan, kayaknya lu masih gak percaya sama gue kan? Makanya, coba deh!”
Dinna cuman bisa manggut-manggut bego.
“Udah ah, gue mo balik dulu ya..! Dee…”
“Res!” Yang punya nama menoleh. “Tungguin dong!” Dinna berlari menyusul. “Kenapa say?” sahut Ressy sambil mengelus rambut Dinna. “Mmm… Pergi yuk!” “Ke mana?” “Ke mana kek. Pergi. Nonton kek. Film bagus kan lagi banyak tuh!” Ressy mengerutkan keningnya. “Mmmm, pengen sih say, tapi kayaknya aku gak bisa deh. Aku banyak tugas nih. Pak Bonar tadi baru aja ngasih tugas lagi, bikin blue print di kertas Ao. Kayaknya sih aku seharian bakalan ngerjain itu.” “Yaah..” “Maaf ya sayang, aku bener-bener gak bisa nih kalo hari ini. Gimana kalo kita perginya hari Minggu aja mau gak? Kita nonton deh, terserah kamu mau nonton apa. Gimana? Mau gak?” Dinna menggigit bibirnya mencoba berpikir, “Kalo hari ini dia ngakunya bikin tugas, harusnya dia ada di rumah dong. Berarti kalo ntar gue telpon ke rumah dianya gak ada, berarti dia lagi ketemuan sama cewek selingkuhannya dong.” “Mmm.. ya udah deh. Eh, aku mau kuliah lagi nih. Good luck ya ngerjain tugasnya!”
Hari udah rada sore waktu Dinna akhirnya nyampe rumah. Gak pake ngapa-ngapain lagi dia langsung nyamber telpon dan memencet nomer telpon yang sudah sangat dihapalnya. “Halo, selamat sore.” Suara di ujung telepon menyambut. “Sore, Mbak Anne ya?” “Iya, Dinna ya?” “Iya Mbak, Ressy nya ada gak mbak?” “Wah, kayaknya gak ada deh Din, tapi mbak gak tau dia ke mana. Mbak juga baru pulang tuh. Ada pesen gak Din?” Dinna sempat berpikir untuk meninggalkan pesen ‘kamu selingkuh ya?’ tapi itu kan gak mungkin, jadi dia cuman nyahut “Nggak deh Mbak, makasih ya!” “Sama-sama, daa..”
Dinna jadi lemas, berarti bener apa kata Noni, Ressy emang selingkuh. Buktinya dia bilangnya mau ngerjain tugas, taunya gak ada di rumah. Dinna teringat sesuatu, mungkin Ressy ngerjain tugasnya di rumah temannya. Diangkat lagi telponnya dan dia menghubungi semua teman-teman kuliah Ressy yang ia kenal. Mulai dari temen-temen dekatnya, Doni, Agung, Nakia, sampai yang temen kuliah biasa. Tapi semuanya gak ada yang tau di mana Ressy, dan yang lebih menyakitkan Dinna, mereka semua bilang Pak Bonar tadi siang tidak memberikan kuliah, jadi tidak ada tugas dari dia.
Dinna membanting telepon dan marah-marah. Dinna akhirnya mengangkat telpon lagi dan memutar nomer handphone-nya Noni. Dinna gak tahan, dia harus cerita sama seseorang.
“Halo, Dinna?” Suara Noni menjawab dilatari suara berisik orang-orang.
“Non, gue benci banget sama Ressy! Kayaknya lo bener deh Non, kayaknya dia emang selingkuh. Tadi siang gue ajak jalan, ngakunya mau ngerjain tugas dari Pak Bonar, tapi gue telponin ke mana-mana, dia gak ada juga. Masak dia ngerjain tugas enggak di rumah sih? Trus, kata temen-temennya, mereka lagi gak ada tugas, jadi sekarang dia di mana dong? Lagi pacaran sama selewengannya ya?”
“Din, gue tau dia lagi di mana.”
“Hah? Di mana?”
“Di Mall. Gue barusan ngeliat dia kok. Gue sekarang juga masih ada di Mall.”
“Hah? Tuuuhh kan? Beneran Non? Dia lagi sama siapa?”
“Dinna, sori ya, tapi tadi gue ngeliat dia lagi jalan sama cewek.”
“Haaaahhhh?? Tuuuhh kaaaannn??!! Noniii… gimana dong? Jadi dia beneran selingkuh ya??? Dia ngapai aja sama tuh cewek? Ceweknya kayak gimana?”
“Yah Din, gue gak ngeliat dia ngapain aja sama tuh cewek, abisan gue ngumpet-ngumpet sih ngeliatnya, kan gue takut keliatan. Tapi gue sempet liat ceweknya sih, cantik banget Din! Eh, tapi masih cantikan elu deng. Dan gue sama sekali gak pernah liat tuh cewek di kampus, jadi kayaknya bukan anak kampus deh.”
“Noniii…!! Ressy jahat!”
“Dinna.. sori ya..!!”
Dinna gak sempet denger sorinya Noni, soalnya dia keburu banting telepon dan ngamuk-ngamuk sendiri. Jadi gini nih Res? Jadi gini ya akhir hubungan kita? Kamu beneran selingkuh ya? Dinna lari ke kamarnya dan menenggelamkan diri dalam tangisan.
Pas bangun besok paginya mata Dinna merah dan bengkak. Untung dia sempat mengompresnya dengan timun dingin, jadinya udah gak terlalu keliatan. Dinna melewati malam kemaren nangis dan berpikir. Dia paling gak suka dibohongin, apalagi sama rang yang sangat dia sayangin dan percayain, jadi dia sudah memutuskan kalo hari ini ia akan minta penjelasan dari Ressy dan kalo bener Ressy nyeleweng, hmph.. gak ada maaf lagi deh. Cuma ada satu penyelesaian, putus!
Siangnya Dinna ketemuan Ressy di kantin kampus. Ressy sama sekali gak keliatan gugup karena diajak ngomong serius sama Dinna.
“Halo sayang!” Ressy nyapa gembira, “tumben kamu pengen ngomong serius? Ada apaan nih? Mo ngomongin acara dua taunan kita ya?”
Dinna malah hampir lupa kalo dua hari lagi dia dan Ressy akan merayakan 2 taunan hubungan mereka . “Gila lu Res,” pikirnya,”nyeleweng pas kita mau 2 taunan. Gak punya otak ya?” pikirnya. “Enggak Res, aku mo ngomong yang lebih serius lagi dari itu.” Ressy menegakkan duduknya dan memasang muka serius. “Apaan tuh?”
“Aku mau nanya, kamu kemaren ke mana sih?”
“Kan aku udah bilang, aku ngerjain tugas dari Pak Bonar.”
“Kok aku telpon ke rumah gak ada?”
“Ooo.. itu, aku ngerjainnya gak di rumah, aku ngerjain di rumah Nakia. Aku baru pulang nyampe rumah udah malem, aku kecapekan, jadinya lupa nelpon kamu. Maaf ya.. Emangnya ada apa sih? Kok kayak gitu aja nanyanya serius amat?”
Dinna jadi naik darah. “Ya jelas serius dong! Karena kamu udah bohongin aku! Kamu gak tau kan kalo aku kemaren nelponin semua rumah temen-temen kamu, kamu jelas-jelas gak ada di rumah Nakia! Dan semua temen kamu bilang kalo Pak Bonar sama sekali gak ngasih tugas!” bentaknya sampai orang-orang di kantin ngeliatin mereka.
Raut muka Ressy langsung berubah pucet. “Mmm.. enggak, kali waktu kamu telpon aku belum nyampe di rumah Nakia kali.”.
Dinna melipat tangannya di depan dada, tanda tidak percaya. “Oh, jadi sebelum kamu nyampe ke rumah Nakia, kamu jalan-jalan dulu di Mall sama cewek ya?”
Ressy langsung berdiri, “Kamu tahu dari mana?” teriaknya.
Dinna ikutan berdiri, “Aku kecewa banget sama kamu Res, ternyata walaupun kita udah pacaran lama, kamu tega nyakitin aku dengan cara kayak gini. Kenapa sih Res? Kamu bosen ya sama aku? Ya udah, kalo gitu selamat pacaran ya, kamu gak harus selingkuh lagi, karena di antara kita udah gak ada apa-apa lagi. Kita putus!” Dinna langsung membalikkan badan dan berlari keluar kantin. Di belakangnya masih didengarnya Ressy manggil-manggil namanya, tapi dia sudah tidak perduli lagi. Selesai sudah kisahnya dengan penipu itu.
Sore itu Dinna ngendon aja di tempat tidurnya, dengerin kaset Bon Jovinya yang sudah lama terlupakan. Gara-gara jadi sama Ressy, Dinna jadi doyan lagu romantis, jadinya lupa deh kalo masih punya kaset Bon Jovi. Tiba-tiba pintu kamarnya diketok dan Mbok Ijah nyelonong masuk. “Mbak, maap, ada tamu tuh.” “Siapa?” ”Mas Ressy.” “Bilangin aja deh sama dia, aku lagi tidur.” “Lho, kok gitu sih Mbak?” “Aku lagi males ketemu ah Mbok.” “Lagi berantem ya Mbak?” “Iya, salah sendiri kenapa nyeleweng.” “Emangnya siapa yang nyeleweng?” tiba-tiba dari belakang Mbok Ijah muncul Ressy.
Dinna langsung berdiri. “Ngapain kamu di sini? Kayaknya gak ada deh yang ngebolehin kamu masuk-masuk seenaknya.”
Bukannya pergi Ressy malah mendekat. “Aku tanya sekali lagi, memnagnya siapa yang nyeleweng?” Mbok Ijah yang ngeliat situasi yang gak enak langsung menyingkir.
Dinna mencibir, “Ih, pake nanya segala. Gak usah sok suci deh. Gak ngerasa ya nyeleweng? Apa menurut kamu itu namanya bukan nyeleweng? Gimana sama cewek barunya? Bahagia? Hebat ya, kamu nyelewengnya udah 3 bulan aku baru tau sekarang.”
“Jadi kamu kira selama ini aku nyeleweng?”
“Gak tau sih kalo ada kata lainnya. Selingkuh, mungkin?”
Bukannya panik, Ressy malah tersenyum lebar. “Emangnya apa yang bikin kamu mikir aku nyeleweng udah 3 bulan?”
“Ya, kan emang bener kan? Sejak 3 bulan yang lalu kamu mulai ngeliatin tanda-tanda kalo lagi nyeleweng.”
“Emangnya apa aja tandanya?”
Dinna melempar majalah yang kemarin ia baca bareng Noni ke Ressy. “Nih, baca aja sendiri!” Ressy membaca artikel itu sambil tertawa-tawa dan menggelengkan kepala.
“Jadi aku memenuhi tanda-tanda ini ya?” ujarnya sambil mengembalikan majalahnya ke Dinna.
“Iya, setidaknya 6 tanda. Udah gitu, kamu bohong waktu kamu bilang ngerjain tugas, kamu malah jalan sama cewek. Apa itu bukan bukti kalo kamu nyeleweng? Masih mau nyangkal?”
“Masih. Aku mau bilang, aku sama sekali gak pernah nyeleweng. Kamu mau tahu aku ke mana aja 3 bulan terakahir ini? Nih..” Ressy menyodorkan sepotong kertas berbentuk kartu nama. Dinna mengambilnya dan membacanya. Kartu nama itu mempunyai lambang sebuah perusahaan periklanan terkenal di Jakarta. “Ressy Ardiansyah Putra, Freelance Creative Art.” Dinna mengernyitkan dahi tanda bingung.
“Kamu kerja di sini?”
“Yap, udah 3 bulan aku kerja part-time di situ.”
“Kok.. mm.. kenapa gak bilang-bilang sama aku?”
“Karena aku mau bikin kejutan buat kamu. Aku kan kerja mau beliin kamu hadiah untuk 2 taunan kita.” Ressy mengeluarkan bungkusan tipis dan menyodorkannya sama Dinna.
“Tadinya aku mau kasihin pas hari jadi kita, tapi kayaknya sekarang juga gak pa-pa ya?”
Dinna mengambil bungkusan itu dan membukanya. Di dalam bungkusan itu ada sehelai tiket pulang-pergi ke Cina. “Res, ini apaan?” tanya Dinna sambil menatap tiket itu.
“Kamu tahu kan kalo liburan besok aku, mama, papa mau liburan ke Cina? Nah, aku kerja selama ini sekalian nabung buat beliin kamu tiket ini. Soalnya aku pengen banget kamu ikut pergi bareng kita, dan aku juga tahu kalo kamu pengen banget jalan-jalan ke Cina. Papa sama mama udah setuju kalo kamu ikut pergi sama kita, papa malah udah nawarin beliin kamu tiket. Tapi aku gak mau, aku mau aku yang beliin itu tiket dari jerih payahku sendiri. Jadi nya, aku nyari kerjaan yang bisa dikerjain sambil kuliah, tapi kerjaannya bikin capek banget, jadinya kayaknya aku jadi kurang merhatiin kamu ya? Maaf ya.. Aku sama sekali gak bermaksud bikin kamu ngerasa sedih kayak gini.”
Dinna masih gak bisa berkata-kata. “Trus cewek yang lagi itu jalan sama kamu di Mall?”
“Oh.. itu kan Shanez, sepupu aku, inget gak? Kebetulan dia satu kantor sama aku, jadi aku barengan sama dia beli keperluan-keperluan kantor gitu. Eh, kamu kok bengong sih? Ngomong dong, kamu seneng gak sama hadiahnya? Kamu mau kan ikut sama keluarga aku ke Cina?”
Dinna cuman bisa mengangguk dan memeluk Ressy erat-erat. “MAU BANGETTT!”
Kemaren gue nonton talkshow di tv yang bintang tamunya merupakan bukti asli bagaimana adilnya Tuhan dalam menciptakan makhluk. Nih artis cewe, cantik banget, seksi, tapi dodolnya setengah mampus. Perawatan diri dibilang maintenance. Lem disangka bor. Gak ngerti wedding souvenir. Gak bisa akting karena gak dimake-up. Duh, kalo ada yang nonton pasti bertanya-tanya, apakah dia punya otak? Jahat ya? Tapi memang sepantasnya ditanyakan kok. Yah, at least now I'n grateful I still got a brain in my skull, not my t*ts..
Gue baru dikasih tau sama seseorang di milis, kalo ada penelitian (tapi gak tau valid atau enggak) bahwa cowo menilai cewe dari penglihatan dan cewe menilai cowo dari pendengaran. Katanya that's why cowo selalu cari cewe cantik dan cewe dapetnya cowo gombal. Hmmm.. That solves the problem, artinya cowo emang born to be gombal! Sayangnya cewe mau aja digombalin.. Gimana ya cara taunya cowo gombal atau tulus? Temen gue pernah pacaran sama cowo yang kalo sms kata2nya kira2 kayak gini nih... "Cintamu bagai air yang menumbuhkan bunga di hatiku" or something like that lah. Later on, ternyata cowo itu selalu mengutip dari Kahlil Gibran (tapi pake modifikasi dikit kayaknya). Kedengerannya emang picisan dan gombal ya, tapi kl dipikirin lagi, cowo itu sampe bela2in cari2 kata dari literatur buat ngungkapin perasaannya, kan harus dihargai juga usahanya. Jadi itu gombal apa enggak?
Lately i just got hurt by someone close. It's a long story and akhirnya kita juga gak saling ngomongan juga (dia ngerasa gak ada salah kayaknya, sedangkan gue keukeuh kl dia punya salah. jadi siapa yang salah dong?). It's been 2 or 3 months, tapi gak tau kenapa sampe sekarang gue masih aja benccciiiiiiiiii bgt sama tuh orang. Mixed up between sedih, kesel, marah, kecewa, merasa dikhianati dan merasa di using in bgt. Semuanya campur aduk dan suka tiba2 muncul walau gak ada pencetusnya. Akhirnya sekarang bertambah lagi satu campuran perasaan, yaitu capek! Saya baru tau membenci itu butuh energi yang besar. Tapi gak tau kenapa, I can't get it out of my head. Boro2 mau forgive, forget aja susah. Padahal gue juga tau dan udah dikasih tau kl it's not worth it, gue juga gak punya hak untuk membenci sebesar itu. Dan emang akhirnya gak membuat gue tenang juga, malah cuman bisa tambah nyesekin dada. Hhhhh.. Somebody, please help me..
Apa batasan selingkuh? Topik ini jadi bahasan "panas" di kos semalem gara2 oknum M yang udah punya pacar tapi yayang2an sama seorang cowok yang udah punya pacar juga. batasan selingkuh menurut semua orang emang beda2. kl menurut si M, doi gak selingkuh karena gak jadian walaupun udah bilang cinta2an dan sayang2an dan suka2an. kl menurut seseorang yang pernah saya dengar, selingkuh adalah kalau bercinta dengan pake perasaan. jadi kapan seseorang bisa bilang dia selingkuh atau enggak? I think it's all about feelings. Kl perasaan udah gak tenang kl lama gak ketemu, atau cemburu kl ngeliat doi merhatiin cewe lain, atau sedih kl smsnya gak dibales2, itu udah tanda2 menuju perselingkuhan yang tidak sehat. Kenapa gak sehat? Karena nambah pikiran! Bagus kl lg gak ada kerjaan, jadi ada yang bisa dipikirin, lah kl kerjaannya segunung dgn deadline2 mepet? Kan susah juga?