Little things in life


Blog For Free!


Archives
Home
2006 September
2006 March
2006 February
2006 January
2005 March
2005 February
2004 November
2004 July
2004 June
2004 May

My Links
Nuti's Blog
Lord of The Rings - Best Movie of All Time
Cool Funny Jokes
If you wanna know your IQ
Pritha's So Called Life
Take a quiz
Know about your personality

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog



Everyone can change.. Naïf?
01.27.06 (9:14 pm)   [edit]
A friend of mine read what I’ve written about rational love, and all that she can comment on is.. “You’re so naïve deh! Pemikiran lo tentang cinta muluk banget, terutama di bagian berubah. Gak ada orang yang bisa berubah, jadi jangan mengharapkan orang bisa berubah. Jangan juga berpikir laki-laki bisa berubah demi lo. Energinya terlalu besar, terlalu capek. Dan kalaupun berubah, old habits die hard, bisa aja dia balik ke kebiasaannya yang dulu.” Well, susah2 sekolah tinggi2, ternyata gue masih bego juga kalo urusannya cinta. Tapi emang bener orang gak bisa berubah? Apa bener gue gak bisa ngarepin seseorang untuk berubah? I really put some thought into it. Gue pikirin bener2, gue bayangin orang2 yang gue tidak akan expect akan berubah. More i think about it, makin gue percaya kalo orang justru gak bisa gak berubah. Ambil contoh si Bek misalnya (read my previous post), apa gak kurang berubahnya doi? Dari preman kelas paus (bukan kakap lagi) jadi orang baik2 gitu? (yah, gak baik2 amat sih, at least lurus lah jalannya). Trus jadi keinget emil (ini nama sebenarnya. Halo mil, apa kabar?), the guy that changes a lot and changes me a lot too. dulu kerjaannya ikutan demo melulu, jago maen billiard, perokok berat, kerjaannya naek gunung. I don’t really know for sure what happened to him, but he turned around and all of the sudden, doi udah jadi anak musholla yang untouchable. I’m not saying it’s a bad thing, it’s good actually, tapi sayangnya he thought I was a bad influence and decided to keep away from me. Jadilah gue kehilangan pegangan dari satu orang yang dulu berarti banget buat gue. Benci? Banget! Benci banget sama dia, benci banget sama diri sendiri, benci banget sama segala sesuatu yang took him away from me. We didn’t talk to each other for almost a year when I finally realized gue emang absolutely nothing in his life, dari dulu sebelum berubah sampe sekarang pun. Jadi why waste my time juga ya? The guy that I used to cling on to is now gone, for good. Udah pindah ke dunianya sendiri. Sekarang doi udah kawin, udah mau punya anak. Dan yang mengherankan adalah I still cried my heart out when I heard the news of him getting married. Yeah, just when you thought he’s out of your heart, it struck you right in the face that a part of you still miss the old him. Bego pisan. Dan kemarin pun gue smsan sama temen gue, di mana doi curhat udah fed up sama idupnya dan pingin berubah. Gue cuma bisa ngedoain bisa sukses, karena gue gak tau sejauh mana doi bisa berubah, dan yang paling penting, mau berubah. Kondisinya sama aja ama gue, tapi lebih parahan lagi, secara umurnya udah mau 30, belum slese skripsinya. Kerjaannya minum ama ny**eng ama maen perempuan. Buset, apa samanya sama gue ya? Hehe.. anyway, I really don’t know where to begin to change if I was him, karena lingkungannya menganggap minum ny**eng main perempuan adalah sesuatu yang gak melanggar norma. Oke, mungkin seeedikit keluar jalur, tapi masih tolerable. So it might be harder for him to change if his surroundings don’t expect him to change. Maksudnya, males aja kan kalo maen bareng, lagi nongkrong2 gitu, trus pada minum dan lo bengong sendiri karena gak minum. Bukannya gak mungkin, tapi akan lebih berat. Especially kalo emang doyan. Tapi gue salut sama tekadnya. Mudah2nya tekadnya sebulat bacotnya. Hehehe.. Dan gue jadi keinget sama salah satu sahabat gue dulu. Dulu perokok berat, dugem melulu, minum kuat banget. Sekarang gue sampe udah gak bisa ngenalin karena she left all that shit and mulai hidup sehat. No smoke, no drink, no fat. Jadi kurus banget boy sekarang! Gokil banget ya. Tapi emang tuh anak kemauannya kuat banget sih. Kalo udah keukeuh gak bisa dilawan. From all my experience, finally I can defend my opinion on changes. Semua orang pasti bisa berubah. Masalahnya cuma mau apa enggak. Gue percaya semua orang punya potensi yang gak terbatas dan bisa ngelakuin apa aja, once you put all your might in there. Gue lama2 jadi percaya, gak ada kata gak bisa. Yang ada cuma, keinginan yang gak cukup kuat. Bukti nyatanya gue. I keep telling myself kalo gue gak bakal bisa kurus. Tapi sebenernya deep down inside, keinginan gue untuk kurus itu masih kalah sama keinginan gue untuk hidup enak. Maksudnya makan enak lah (karena kalau mau kurus = gak bisa makan enak). So, keinginan kurusnya gak cukup kuat untuk ngalahin keinginan makan enak. Motivasinya kurang strong. Jadi yang mesti dirubah tuh cuma mindset, kebulatan tekad & keteguhan hati. Buktinya manusia bisa jalan di bulan kok (walaupun orang bilang itu rekayasa), kenapa gak bisa sih cuma bikin satu perubahan kecil dalam hidup lo. Ini juga yang gue lagi coba sekarang, ngerubah kebiasaan bangun mepet & nyampe kantor melipir. Lagi berusaha bangun lebih pagi jadi bisa berangkat & nyampe kantor lebih pagi. Setelah beberapa kali mencoba (yang baru 2 kali), ternyata jauh lebih enak. Jalanan belum terlalu macet, gue bisa parkir di basement (jauh dari matahari) dan bisa sarapan dengan tenang juga. Dan ternyata kurang tidur justru bikin gue lebih semangat & gak lemes (gue baru tau faktanya kalo manusia yang kebiasaan tidur lebih dari 6 jam tiap hari lebih besar kemungkinan untuk mati muda. Wooww.. begadang mari begadangg...). Keren ya? Gue yang kalo kuliah gak pernah on time. Yang kuliah jam 8 baru bangun jam 8 juga. Yang kalo tidur kayak kebo mati di sungai (ngalir gitu maksudnya). Bangga deh rasanya. (Kita lihat saja akan bertahan berapa lama perubahan ini) Maslow must be smiling in his grave by now. So back to my conclusion, I do believe people can change, if they’re willing to change. Kalo balik ke masalah cinta-cintaan, can you change for the person you love? Mungkin ini the true test of love. If you love someone that deeply, you’re suppose to become one. As in you change for your partner, means you change for yourself. Tapi masalahnya, sometimes orang cuma pingin berubah demi supaya pasangannya gak pergi ato gak marah. That’s it. It’s that simple. Kalo gue berubah, pacar gue akan makin sayang sama gue. Mungkin itu sudut pandang yang mesti dirubah. You’re supposed to change to make yourself a better person, yang lebih pantas untuk dicintai, baik oleh diri sendiri maupun orang lain. A more worthy person. Lha, apa bedanya ya? Pemahamannya kali ya lebih dalem. Kalo yang pertama, sekedar dangkal untuk jangka pendek aja, kalo yang kedua lebih ke self-renovation, becoming a better self ke arah waktu yang lebih lama. Kalo bisa sampe ke akhir masa. But the second one may take longer, karena dilalui pake pengalaman, gak cuma teori aja. Banyak trial & error nya. Banyak ups & downs nya. Makanya kalo “cuma” niat pacaran doang, mungkin cuma dapet gondoknya aja, karena belum kedapetan hasilnya. Mungkin harus niatnya berbagi hidup, baru kerasa..
 
Confessions of an ex preman
01.27.06 (9:13 pm)   [edit]
Bek (bukan nama sebenarnya), waktu masih muda, bisa dibilang preman paling diseganin di daerahnya (Bogor dan sekitarnya). Tato jadi atribut wajib di kanan kiri. Pengedar paling top seluruh Jawa. Penghasilannya jutaan sehari (dan itu tahun 80-90an). Kalo udah nunjuk orang, bisa lewat nyawa tuh orang. Perempuan satu demi satu dicoba, entah berapa jumlahnya. Untungnya (kalo bisa dibilang untungnya), gak ada yang tek dung. Sayangnya (kalau bisa dibilang sayangnya), hidup berkata lain. Kemujuran mulai bergeliat melepaskan diri dari cengkraman nasibnya. Salah satu wanitanya akhirnya terbukti subur dan satu jiwa baru menggandakan diri dalam rahimnya. Keluarganya murka. Tapi Bek bukan pengecut, ia akan tanggung jawab. Dihadapinya kemurkaan Sang Bapak, ia siap menikahi putrid kesayangannya. Sang bapak tambah murka. Aku tidak akan menyerahkan putriku padamu, katanya. Sang putri menghadapi dilemma 3 arah, Bapaknya, kekasihnya, jabang bayinya. Akhirnya ia pun mengikuti hatinya dan memilih Bek, against all odds. Ternyata bukan hanya Sang Putri yang mengikuti Bek, polisi sudah mencium jejaknya setelah beberapa lama dan mengumpulkan nyali untuk meringkusnya. Bek pun mendekam di bui. Tapi jangan disangka sepak terjangnya berhenti di balik teralis. Jual beli jalan terus, transaksi terus mengalir. Omsetnya sehari mencapai belasan juta. Tapi ternyata ada yang berubah dalam kehidupan Bek, sesosok wanita yang mengunjunginya setiap minggu. Wanita renta yang mengarungi puluhan kilo perjalanan setiap minggu dengan tubuh rapuhnya dan masakan untuk anaknya tersayang. Ada maupun tanpa ada yang menemani, ibunya terus menjenguknya, terus membanjirinya dengan limpahan kasih sayang yang dulu tak pernah dipedulikannya. Wanita itu dulu tidak pernah ia pandang sebelah mata. Tidak pernah dia anggap ada, signifikan, berpengaruh dalam kehidupannya. Kini setiap minggu ia dicecoki oleh perhatian dan cinta yang tulus dari wanita itu. Hatinya melunak, keberingasannya melemah. Di tempat di mana kekerasan merupakan hal utama yang membuatnya bertahan hidup, justru menjadi tempat di mana ia merasakan kelembutan yang tak terbatas. Tatapan dan sentuhan ibunya membuatnya bertekad, bahwa ia tidak akan pernah membuat wanita yang berdiri di hadapannya ini kecewa. Tidak akan pernah. Dan ia adalah laki-laki yang penuh tekad. Yang memegang teguh janji yang dibuatnya. Dua tahun berlalu, Bek akhirnya keluar bui. Ia pun pulang ke rumah, tak sabar ingin membuktikan janjinya pada wanita. Sesampainya di rumah, ibunya menyambut haru. Hari perayaan, harus disyukuri. Ia pun mengambil beberapa ribu rupiah dan memberikannya pada Bek. “Ibu belum belanja, tolong belikan telur seperempat. Ibu mau masak untuk kamu.” Bek tertegun, ribu rupiah sudah berada di genggamannya. Cobaan pertama bagi kebulatan tekadnya. Dia, preman paling disegani, dengan omset jutaan rupiah sehari, bisa membeli telur ribuan kilo, sekarang menggenggam uang kertas lecek, untuk membeli telur cuma seperempat kilo. Goncang. Goyah. Preman belanja telur? Mau ditaruh di mana mukanya? Mau bilang apa sama semua orang? Kini dia punya dua pilihan, pilihan yang sama beratnya. Siapa yang sangka telur seperempat bisa memberikan pilihan yang sedemikian berat? Dan dia harus memilih. Saat itu juga. Tiba-tiba pikirannya cerah. Ia tau apa yang harus dilakukan, apa yang harus dipilih. Dicium tangan ibunya dan ia pun melangkah pergi. Little does his mother know, kalau permintaan yang sangat sederhana itu, telah merubah total kehidupannya. He sticked to his words. Dan satu perasaan menyelinap di harinya. Satu kata. Ikhlas. Sejak saat itu, menghilang sudah satu lagi preman jagoan dari jalanan. Sekarang Bek menginjak umur 40. Perjalanannya sudah sangat panjang. Perjalanan yang sangat berat jika dilihat dari mata orang awam. Tapi Bek bukan orang awam, dia laki-laki tangguh yang bertemankan keikhlasan. Kehidupannya berkecukupan, tidak lagi berlebihan seperti dulu. Tapi jiwanya kaya. Ia telah menemukan permaisuri, yang mempersembahkan putra mahkota bagi kerajaan hatinya. Hubungannya dengan Yang Di Atas semakin akrab. Mereka saling mengunjungi setiap saat. Ia bahkan ingin memperdalam ilmu untuk mendekatkan dirinya lebih jauh dengan-Nya. Mungkin ia tidak bisa menjadi Ustadz atau Da’i bagi orang lain, tapi ia ingin menjadi imam yang sempurna. Tato masih berbekas di tangannya, as a token of lifelong experience, and as a reminder of how people change.
 
Cinta rasional?
01.27.06 (9:12 pm)   [edit]
Kalau ada yang nanya sama lo sekarang, menurut lo cinta rasional apa irrasional? Gue yakin banget hampir semua orang akan jawab yang kedua. Iya lah, makan tai kambing serasa coklat kan kalo lagi jatuh cinta katanya lagu. Tapi itu dulu, jaman jebot. Sekarang setelah gue liat2 lagi, sekarang udah banyak orang yang mulai gak percaya sama cinta. Tai kucing cinta katanya. Makan tuh cinta katanya. Hari gini ngomongin cinta katanya. Semua itu kan sebuah pertanda kalo orang makin lama makin gak percaya sama cinta. Ambil contohnya aja temen gue yang tidak akan gue sebutkan namanya. Doi htsan sama cowok, yang menurutnya masa depannya gak jelas, as in gak lulus kuliah, kerjanya gak jelas, gak ada juntrungan, keluarganya juga kayak gak ada keinginan untuk ngeliat dia sukses. Kalo dibilang sayang, gue yakin dia sayang. Tapi dibilang cinta, entar dulu. Buktinya dia gak mau pacaran, sekedar hts dan ttm walaupun kegiatannya gak jauh beda sama status pacaran. Alasannya adalah, karena tuh cowok gak bisa menjamin kehidupannya dan keluarganya di depannya. Itu aja, so simple. Bukan karena beda agama, bukan karena beda prinsip, bukan karena beda pandangan. Tapi karena kemapanan, jaminan di masa depan. Menurut gue konsep itu masih gak masuk akal. Gue masih masuk jajaran orang yang percaya sama cinta. Menurut gue, kalo lo sayang sama orang dan dia juga sayang sama lo, kalo lo ngerasa nyaman sama tuh orang dan dia juga nyaman sama lo, kenapa lo gak bisa bareng. Kalo menurut gue, harusnya hambatan yang jadi rintangan lo berdua bareng yang harusnya diilangin, bukan elo berdua yang harus gak bareng. Tapi nyatanya banyak banget orang yang akhirnya nyerah dan milih gak bareng aja daripada maksa. Sampe sekarang sih temen gue yang itu masih bareng ama cowok itu, and I do really hope that they stay that way coz they deserve each other. Jadi balik lagi ke apa yang mau gue omongin adalah, emang cinta sekarang udah gak irrasional lagi ya? Maksudnya, sekarang udah gak bisa ngeliat cinta pake hati, tapi pake otak. Pake itung2an masa depan. Pake dibayangin kalo punya keluarga bareng akan bisa idup apa enggak. Sometimes mungkin orang yang bersama lo bukan orang yang paling pingin bareng, tapi mungkin orang yang paling masuk akal untuk bareng lo. Dengan kata lain, mungkin justru balik lagi ke masa Bibit Bebet Bobot. Sekarang trennya orang udah ngeliat itu lagi. Kalo dibilang “Mau gue jodohin ga? Anak jendral lho..” pasti mata orang yang bersangkutan dan mata orang yang ngomong akan beda dengan kalo “Mau gue jodohin ga? Anak manajer lho..” Financial security udah balik lagi jadi hal yang penting banget. Gila lo, anak jendral, kayanya tujuh turunan kali. Gak usah mikir lo idup, tinggal ngangkang sama bikin anak apa susahnya sih? Susahnya di hati. Beratnya di pikiran bung. Mungkin karena pada dasarnya gue orang yang percaya orang dilahirkan serba bisa, as long as lo cukup punya kemauan, jadi gue percaya semua orang bisa kaya kok, bisa sukses, asal lo cukup mau untuk susah. Balik lagi ke prioritas idup kali ya? Apa sih yang lo cari dalam idup? Terus terang, dulu gue akan jawab uang. Tapi sekarang setelah (sedikit) beruang, gue ternyata gak jadi bahagia juga. Apa kurang banyak kali uangnya ya? Tapi kalo banyak uang pun mau diapain? Paling dibeliin rumah, dibeliin mobil, buat belanja, buat jalan-jalan. Emang bikin bahagia. Kalo dirunut lagi, buat apa lo punya rumah bagus, gede, mewah di Pondok Indah, kalo lo tinggalin sendiri. Buat apa lo punya Jaguar, keren, bisa ngebut, kalo lo ngebut sendiri? Buat apa lo belanja baju, sepatu, tas, kalo gak ada orang yang bisa ditunjukin dan bilang bagus? Buat apa lo jalan-jalan keliling Eropa, ke tempat-tempat bagus dan romantis, kalau lo gak sama orang yang tepat? Percaya deh, pada akhirnya akan kerasa kosong juga. Hampa. Gak berbekas. Gak signifikan. Gak jadi memori yang menyenangkan. Jadi kalau sekarang gue ditanya, apa sih yang akan bikin lo bahagia? Gue akan jawab, nemu pasangan hidup gue, jodoh gue, belahan jiwa gue, orang yang gue pinginin, dan pingin berbagi hidup sama gue, orang yang akan menganggap gue orang terpenting dalam kehidupannya dan akan gue anggap orang paling penting dalam kehidupan gue. Picisan? Pastinya. Tapi itu yang gue rasain sekarang, dan paling gue pinginin sekarang. Karena gue udah ngerasain (walaupun dalam skala yang super mikro) punya rumah sendiri, punya mobil sendiri, belanja foya2 dan jalan2 ke tempat bagus. Dan yang gue piker cuman, God, I wish I’m here with someone. A house is just a building without being with someone. Basi banget. Cupu berat. Jadi kalo ditanya, apakah gue bahagia sekarang dengan status kejombloan gue? Hmmm.. it will take a lot of time to answer, karena kalo berdasarkan definisi bahagia gue, harusnya I’m not happy, tapi gue gak bisa pura2 gak bahagia. Gue ketawa kok. Setiap hari. Tulus gue ketawanya. Dan kalo dipikir2, harusnya gue gak punya alasan untuk gak bahagia. Gue punya keluarga yang gue tau cinta banget sama gue. Gue punya temen2 di sekitar gue yang bisa diajak ketawa, at least for the time being coz we’re in the same environment. Gue punya mimin mobilku yang setia walaupun suka pundung. Kamar kos gue nyaman. Rumah gue enak walaupun jauh. Gue masih punya duit buat makan. Gue masih punya kasur untuk ditidurin. Gue masih punya udara untuk bernapas. Gue masih punya mata untuk ngeliat. And the list continues. So I don’t have any reason why I shouldn’t be happy. Tapi pada kenyataannya, I feel like I’m not completely happy, gak pol maksimal bahagianya. Kayak masih ada yang ilang aja. Mungkin itu yang masih belum gue dapetin dari kejombloan sialan ini. Trus balik lagi ke pembahasan sebelumnya (okay, I’m losing track, I know), cinta menurut gue seharunya sesuatu yang irrasional, yang lo liat pake hati, lo rasa pake emosi. Lepas dari hitung menghitung, lepas dari syarat-syarat, lepas dari bibit bebet bobot. Tapi itu kan gue, secara bisa dibilang gue masih belum pernah ngerasain cinta yang beneran. Makanya gue bilang seharusnya kayak begitu. Tapi gue juga gak bisa bilang bibit bebet bobot gak berefek. Orang2 lain yang gue liat, yang sibuk gonta ganti cinta, pada akhirnya fed up sama cinta dan milih orang yang masuk akal. Contoh : misalnya lo harus milih antara 2 cowok, umurnya sama, bentuk fisiknya let’s say sama. Cowok A belum kelar kuliah, kerjaannya gak jelas, freelance sana sini dan gak ada rencana untuk kerja kantoran (walaupun duitnya lumayan juga), suka mabok, gak pernah shalat, tapi baiiiik banget. He really knows how to treat women lah. Gentleman. Kalo ngobrol bisa nyambung bgt. You feel like you can be your true self in front of him. Mari kita lihat kontestan cowok B. Lulusan S2 luar negeri, kerja di perusahaan gede, mau dipromote jadi manager, anak orang kaya. Lurus banget, gak ngerokok, gak pernah minum, shalatnya pol. Baik sih baik, tapi gak bisa menservice lo, dengan kata lain lo gak bisa manja2 lah sama dia, padahal lo suka banget manja sama orang lain. Kalo gue, sejujurnya akan milih cowok A, secara gue ngejar nyaman. Tapi tetep ada sesuatu dalam otak gue yang mikir. Gila apa, mau jadi apa lo sama dia? Secara gue juga bukan orang yang lurus gitu. Kasih orang yang gak lurus juga, apa gak bengkok2 jadinya? Jadi sisi rasional gue akan bilang untuk memilih cowok B, karena masa depannya lebih cerah dan kalau dari sisi agama, bisa jadi imam yang baik lah untuk keluarga. Kalo boleh nih pinjem lacinya doraemon, pingin banget gue liat masing2 pilihan, apa yang akan terjadi kalau gue milih salah satu. Teorinya adalah, gue akan hidup makmur tapi gak bahagia sama cowok B, dan hidup tak makmur tapi bahagia sama cowok A. itu kan teori. Pada kenyataannya mungkin gak ada segamblang itu. Bisa aja gue jadi cinta karena terbiasa (kalo katanya Dewa) sama cowok B dan hidup makmur dan bahagia. Bisa jadi juga cowok A insyaf dan mulai kerja yang bener (as in lebih giat bekerja mencari proyekan. Hehe..) dan I end up hidup makmur dan bahagia juga sama dia. Tapi hal yang jelek2nya juga bisa aja terjadi. Bisa aja si cowok B tiba2 dipecat tidak hormat dari kantornya dan gak bisa dapet kerja di mana pun, dan bisa aja si cowok A tiba2 affair sama cewe lain, dan akhirnya gue end up tidak makmur dan tidak bahagia juga. Hahaha.. dilematis bukan? Balik lagi ke sisi rasio atau emosi yang kerja. Kalo rasio yang full control, kadang emang harus ngorbanin perasaan, ngorbanin rasa nyaman, tapi lo gak harus banyak mikir di kemudian hari. Kalo emosi tok, mungkin lo akan bahagia, tapi harus banyak berpikir juga. Kalo gue pribadi sih, gue mikir juga, gue sih fine sama orang yang ancur, as long as punya kemauan untuk lurus. Kan balik lagi ke semboyan utama, manusia dilahirkan serba bisa. Bisa kok lurus, asal cukup kenceng maunya. Dan harapannya kan gue bisa jadi sumber kemauan yang cukup penting untuk bisa ngerubahnya. Dan kalo gue rasa juga, makmur yang dirintis bareng kan lebih enak ya daripada yang udah dikasih makmur, kalo ada apa2 malah kalang kabut lagi. Kebiasa idup enak, dikasih susah dikit jadi lebih berat rasanya. So, my point is, cinta is irrasional apa rasional ya? No no, better make it this way, mending milih rasio apa emosi dalam milih cinta? Kayaknya pertanyaan ini gak bakal bisa gue jawab ya, selama masih belum nemu cinta yang beneran. Tar kalo udah, mungkin pertanyaan jebakan batman ini baru bisa dijawab. Meanwhile, just enjoy the love that you got and be thankful that it’s there for you.
 
Bangga jadi orang Indonesia
01.27.06 (9:10 pm)   [edit]
Hihi., basi bangeet gitu ya, udah kayak pelajaran pancasila* jaman sekolah. Tapi beneran deh, setelah mengecap jalan2 ke negeri tetangga, gue baru nyadar betapa bahagianya gue jadi orang Indonesia. Walopun rusuh, ga teratur, korupsi, dll, tapi gue tetep bangga jadi warga Indonesia. Kenapa? Karena begitu ramahnya orang Indonesia dong.. gila lo, di sana perasaan kagak ada orang yang senyum. Masuk toko aja perasaan gak ada yang senyum tulus. Makan di pinggir jalan, even if yang jualan ibu2 pake jilbab, tetep aja jutek. Naek taksi supirnya bisa marah2in gue. Duh, gue bisa gila deh. Secara gue terbiasa dengan orang2 yang mau senyum balik kalo disenyumin. Mau bales kalo disapa. Mau jawab kalau ditanya. Mau Bantu kalau dimintain tolong. Di sana? Hmm.. boro! Mukenye senep semua kayak semua beban idup dilimpahin ke bahunya. Pliss dehhh... kenapa sih? Makanya pas nyampe Cengkareng lagi, betapa bahagianya melihat petugas imigrasi yang tersenyum balik waktu disenyumin. Bilang “kembali” waktu gue bilang makasih. Dan betapa bahagianya ketemu porter yang bersedia jawab tempat ambil trolley dan nunjukin di mana gue harus ambil bagasi. Asli deh, gue jadi bener2 gak pingin tinggal permanen di luar negeri, padahal dulu gue pinginnya setengah modar. Untuk cari duit mungkin bisa tahan setaun dua taun, tapi permanen? Oh no way.. secara waktu gue di Bandung, I can get around Bandung by angkot, sendirian, dengan hanya berbekal “Maaf, numpang Tanya.” And everyone will be glad to show you what to take dan turun dmana, bla bla bla.. di sana? Ngobrol gih sana sama buku petunjuk bus. Emang sih sistemnya udah rapi bener, jadi mungkin orang juga gak expect lo untuk nanya ya. But still, secara gue orangnya males mikir, daripada melototin peta, kan mending nanya orang. Beres dalam hitungan detik, asal orang yang gue Tanya gak sok tau. Nanti kejadiannya kayak waktu gue nyasar di Sukajadi luar kota Bandung. Tapi yang penting intensinya untuk membantu itu lho. Ada survey di Reader’s Digest yang bilang orang Indonesia pemarah. Gue sendiri belum baca isinya sih. Cukup mengagetkan juga judulnya, tapi understandable, karena pada dasarnya orang Indonesia basic needs nya belum terpenuhi, jadi gak bisa diharapkan banyak dari segi stabilitas emosi. Even gue pun yang notabene udah ngerasain sekolah tinggi sama kerja di kantoran, masih ngerasa masih labil banget emosinya. Kadang bisa seneng banget, tapi kalo lagi down (terutama pas lagi mau dapet) bisa misuh-misuh gak keruan. Gimana yang kerjaannya tiap hari kerjaannya minta-minta? Bukannya ngerendahin profesinya, tapi dengan karakteristik kerjaan gue yang ringan, rutin, ber AC, lingkungan kerja yang menyenangkan & customer yang cooperative, bandingin dengan pengemis ato pengamen yang panas2an di samping jalan raya, ngirup asep, nelen debu, panas matahari terik, diusir2 sama pengemudi mobil. Teorinya kan harusnya level stressnya lebih tinggi, jadi bikin emosi yang lebih tinggi juga. Tapi ya sudahlah, that’s the way it is. Tapi yang pasti, gue cinta banget jadi orang Indonesia. Hidup Indonesia! Merdeka! (* Ngomong-ngomong pancasila, gue baru nyadar kalo gue udah gak afal pancasila! Gila, 5 aturan yang mendasari kehidupan di negeri gue lho, dan gue gak afal. Thanks to Ebin & Tisa yang meminta gue untuk bacain pancasila, gue jadi nyaho kalo gue gak afal, dan jadi wondering, berapa banyak ya anak muda di Indonesia tercinta ini yang masih afal pancasila. Yang jelas, 2 orang itu afal, dan mereka dua2nya kerja di luar negeri. Apakah itu suatu pertanda?)
 
My Life nowadays
01.18.06 (1:35 am)   [edit]
God! It’s great to write again! Setelah diinget2, sejak kerja gue udah gak pernah nulis lagi. That means, udah hampir 5 bulan! Gila, udah 5 bulan gue kerja. Sesuatu yang dulu adalah momok yang menakutkan banget buat gue, sesuatu yang gue bener2 hindarin sampe gue bela2in kuliah lagi cuma demi menghindari kerja. Sesuatu yang gue pikir akan bikin hidup gue rutin banget dan gak menyenangkan lagi. 5 whole months aja gitu. Gila gila gila.. setelah kerja gue juga belum sempet kontemplasi, mikirin apa yang mau gue kerjain sih dalam hidup. Dan sekarang setelah mode kontemplasi udah on, gue baru menyadari betapa banyak hal yang ilang dalam kehidupan gue. Yang paling berasa signifikan adalah temen. I really can understand now what separates “usual” friend with true friends. Asli, kerasa banget gue sekarang, betapa gue gak banyak punya temen sejati. I guess I spent all my life making new friends, I forgot to maintain all the old ones. And it turned out you can’t really hope everyone to be your true friends. Anjrit, gak ada gunanya dong gue selama ini temenan? Ternyata kualitas suatu pertemanan bener2 gak sama dengan frekuensi ketemu. Kualitas suatu pertemanan kayaknya lebih berbanding lurus sama kualitas pertemuan itu sendiri. Tapi setelah dipikir2 juga, kualitasnya juga relatif dari orangnya. Yang menurut gue bermakna, mungkin gak dianggep sama sama orang lain yang bersama gue. Dan pada akhirnya lo tetap akan sendiri. You’ll end up fighting alone, can’t really rely on anyone’s shoulder anymore to cry on. Can’t really hope that your so-called-friends will call you on your birthday and wish you happy birthday. You can’t even trust they’ll come to your funeral when you’re dead. Gue ngerasa itu banget sekarang. Semua orang udah sibuk sama kehidupannya sendiri2, pacarnya sendiri2, suaminya sendiri, kerjaannya sendiri2. So by the time lo ketemuan, yang biasanya jadi event yang seru dan menyenangkan turned out to be basi aja. Kayak formalitas, kayak gak menikmati. Dan saat lo pulang pun lo tau lo gak ada menyimpan ketemuan hari ini dalam memori yang cukup berarti untuk disimpan. And you’ll expect them to do the same. Mungkin pada akhirnya balik lagi ke kualitas hidup lo juga ya, dengan kata lain, sepenting apa sih lo dalam kehidupan orang lain? Tapi sejauh apa juga sih seorang teman bisa jadi penting dalam kehidupan seseorang? Kalo buat gue sih jelas, penting banget punya temen. Tapi mungkin makin ke sini gue udah tidak menunjukkannya dalam perilaku ya. Terlalu sibuk dengan rutinitas kerja, jadinya udah gak punya waktu untuk just call and say hello. Even if you do, bisa jadi orang yang lo telp akan expect lo untuk punya urusan dan bertanya “Ada apa?” “Kenapa?” Padahal kan gak harus ada apa-apa dan kenapa-kenapa untuk sekedar nelpon dan bilang halo apa kabar? Ya gak sih? Apa normanya udah berubah? Harus ada urusankah untuk menelpon orang? Apakah menanyakan kabar dan bertegur sapa udah bukan urusan orang lain lagi? Jadi gak boleh tau? Yah, tapi mungkin gue juga melakukan hal yang sama sih sadar gak sadar. Buktinya pas kemaren si Okto nelpon pas gue lagi di Malang, otomatis gue jadi nanya ada apa. Trus gue baru mikir, eh, kenapa gue nanya ya? Ternyata gue gak konsisten juga ya. Gak suka digituin tapi gituin orang. Tapi hari ini gue seneng banget, karena my long lost soulmate (aiiihhh.. soulmatee…) Titut tiba2 nelpon dan ngobrol panjang lebar. She eventually ends up in Bali dan kerja di sana. Gila, gue piker, betapa jalan hidup orang bisa jauh banget pisahnya. Siapa yang nyangka sih gue ama titut yang waktu smp udah kayak kembar saking kemana2 bareng, sekarang bisa pisah dunia gitu? Me doing my routine here in Jakarta, dan doi just being creative in her own way out there di Bali. Gokil banget. But at least it’s good to know she called just to know how I’m doing. Bagi2 cerita, ketawa2 bareng. It really is good to know there’s someone out there who still thinks of you and decided to talk to you when she held the phone. It’s good to know there’s someone out there who still nganggep kabar tentang lo cukup berharga dan sepadan dengan harga pulsa yang dikeluarin. And it’s good to know I’m still important enough in someone’s life, walaupun kita udah bertahun-tahun gak ketemu. Maybe ini yang ngebedain juga true friends and so-called friends. Intensitas ketemu ternyata tidak berbanding lurus sama kualitas persahabatan. Kalau Einstein masih hidup, kayaknya gue pingin minta rumus pertemanan sama doi, pasti makin keriting aja doi. Hihi..
 
I was born in the Year
1981
And my favorite color is Blue