God! It’s great to write again! Setelah diinget2, sejak kerja gue udah gak pernah nulis lagi. That means, udah hampir 5 bulan! Gila, udah 5 bulan gue kerja. Sesuatu yang dulu adalah momok yang menakutkan banget buat gue, sesuatu yang gue bener2 hindarin sampe gue bela2in kuliah lagi cuma demi menghindari kerja. Sesuatu yang gue pikir akan bikin hidup gue rutin banget dan gak menyenangkan lagi. 5 whole months aja gitu. Gila gila gila.. setelah kerja gue juga belum sempet kontemplasi, mikirin apa yang mau gue kerjain sih dalam hidup. Dan sekarang setelah mode kontemplasi udah on, gue baru menyadari betapa banyak hal yang ilang dalam kehidupan gue. Yang paling berasa signifikan adalah temen. I really can understand now what separates “usual” friend with true friends. Asli, kerasa banget gue sekarang, betapa gue gak banyak punya temen sejati. I guess I spent all my life making new friends, I forgot to maintain all the old ones. And it turned out you can’t really hope everyone to be your true friends. Anjrit, gak ada gunanya dong gue selama ini temenan? Ternyata kualitas suatu pertemanan bener2 gak sama dengan frekuensi ketemu. Kualitas suatu pertemanan kayaknya lebih berbanding lurus sama kualitas pertemuan itu sendiri. Tapi setelah dipikir2 juga, kualitasnya juga relatif dari orangnya. Yang menurut gue bermakna, mungkin gak dianggep sama sama orang lain yang bersama gue. Dan pada akhirnya lo tetap akan sendiri. You’ll end up fighting alone, can’t really rely on anyone’s shoulder anymore to cry on. Can’t really hope that your so-called-friends will call you on your birthday and wish you happy birthday. You can’t even trust they’ll come to your funeral when you’re dead. Gue ngerasa itu banget sekarang. Semua orang udah sibuk sama kehidupannya sendiri2, pacarnya sendiri2, suaminya sendiri, kerjaannya sendiri2. So by the time lo ketemuan, yang biasanya jadi event yang seru dan menyenangkan turned out to be basi aja. Kayak formalitas, kayak gak menikmati. Dan saat lo pulang pun lo tau lo gak ada menyimpan ketemuan hari ini dalam memori yang cukup berarti untuk disimpan. And you’ll expect them to do the same. Mungkin pada akhirnya balik lagi ke kualitas hidup lo juga ya, dengan kata lain, sepenting apa sih lo dalam kehidupan orang lain? Tapi sejauh apa juga sih seorang teman bisa jadi penting dalam kehidupan seseorang? Kalo buat gue sih jelas, penting banget punya temen. Tapi mungkin makin ke sini gue udah tidak menunjukkannya dalam perilaku ya. Terlalu sibuk dengan rutinitas kerja, jadinya udah gak punya waktu untuk just call and say hello. Even if you do, bisa jadi orang yang lo telp akan expect lo untuk punya urusan dan bertanya “Ada apa?” “Kenapa?” Padahal kan gak harus ada apa-apa dan kenapa-kenapa untuk sekedar nelpon dan bilang halo apa kabar? Ya gak sih? Apa normanya udah berubah? Harus ada urusankah untuk menelpon orang? Apakah menanyakan kabar dan bertegur sapa udah bukan urusan orang lain lagi? Jadi gak boleh tau? Yah, tapi mungkin gue juga melakukan hal yang sama sih sadar gak sadar. Buktinya pas kemaren si Okto nelpon pas gue lagi di Malang, otomatis gue jadi nanya ada apa. Trus gue baru mikir, eh, kenapa gue nanya ya? Ternyata gue gak konsisten juga ya. Gak suka digituin tapi gituin orang. Tapi hari ini gue seneng banget, karena my long lost soulmate (aiiihhh.. soulmatee…) Titut tiba2 nelpon dan ngobrol panjang lebar. She eventually ends up in Bali dan kerja di sana. Gila, gue piker, betapa jalan hidup orang bisa jauh banget pisahnya. Siapa yang nyangka sih gue ama titut yang waktu smp udah kayak kembar saking kemana2 bareng, sekarang bisa pisah dunia gitu? Me doing my routine here in Jakarta, dan doi just being creative in her own way out there di Bali. Gokil banget. But at least it’s good to know she called just to know how I’m doing. Bagi2 cerita, ketawa2 bareng. It really is good to know there’s someone out there who still thinks of you and decided to talk to you when she held the phone. It’s good to know there’s someone out there who still nganggep kabar tentang lo cukup berharga dan sepadan dengan harga pulsa yang dikeluarin. And it’s good to know I’m still important enough in someone’s life, walaupun kita udah bertahun-tahun gak ketemu. Maybe ini yang ngebedain juga true friends and so-called friends. Intensitas ketemu ternyata tidak berbanding lurus sama kualitas persahabatan. Kalau Einstein masih hidup, kayaknya gue pingin minta rumus pertemanan sama doi, pasti makin keriting aja doi. Hihi..