Bek (bukan nama sebenarnya), waktu masih muda, bisa dibilang preman paling diseganin di daerahnya (Bogor dan sekitarnya). Tato jadi atribut wajib di kanan kiri. Pengedar paling top seluruh Jawa. Penghasilannya jutaan sehari (dan itu tahun 80-90an). Kalo udah nunjuk orang, bisa lewat nyawa tuh orang. Perempuan satu demi satu dicoba, entah berapa jumlahnya. Untungnya (kalo bisa dibilang untungnya), gak ada yang tek dung. Sayangnya (kalau bisa dibilang sayangnya), hidup berkata lain. Kemujuran mulai bergeliat melepaskan diri dari cengkraman nasibnya. Salah satu wanitanya akhirnya terbukti subur dan satu jiwa baru menggandakan diri dalam rahimnya. Keluarganya murka. Tapi Bek bukan pengecut, ia akan tanggung jawab. Dihadapinya kemurkaan Sang Bapak, ia siap menikahi putrid kesayangannya. Sang bapak tambah murka. Aku tidak akan menyerahkan putriku padamu, katanya. Sang putri menghadapi dilemma 3 arah, Bapaknya, kekasihnya, jabang bayinya. Akhirnya ia pun mengikuti hatinya dan memilih Bek, against all odds. Ternyata bukan hanya Sang Putri yang mengikuti Bek, polisi sudah mencium jejaknya setelah beberapa lama dan mengumpulkan nyali untuk meringkusnya. Bek pun mendekam di bui. Tapi jangan disangka sepak terjangnya berhenti di balik teralis. Jual beli jalan terus, transaksi terus mengalir. Omsetnya sehari mencapai belasan juta. Tapi ternyata ada yang berubah dalam kehidupan Bek, sesosok wanita yang mengunjunginya setiap minggu. Wanita renta yang mengarungi puluhan kilo perjalanan setiap minggu dengan tubuh rapuhnya dan masakan untuk anaknya tersayang. Ada maupun tanpa ada yang menemani, ibunya terus menjenguknya, terus membanjirinya dengan limpahan kasih sayang yang dulu tak pernah dipedulikannya. Wanita itu dulu tidak pernah ia pandang sebelah mata. Tidak pernah dia anggap ada, signifikan, berpengaruh dalam kehidupannya. Kini setiap minggu ia dicecoki oleh perhatian dan cinta yang tulus dari wanita itu. Hatinya melunak, keberingasannya melemah. Di tempat di mana kekerasan merupakan hal utama yang membuatnya bertahan hidup, justru menjadi tempat di mana ia merasakan kelembutan yang tak terbatas. Tatapan dan sentuhan ibunya membuatnya bertekad, bahwa ia tidak akan pernah membuat wanita yang berdiri di hadapannya ini kecewa. Tidak akan pernah. Dan ia adalah laki-laki yang penuh tekad. Yang memegang teguh janji yang dibuatnya.
Dua tahun berlalu, Bek akhirnya keluar bui. Ia pun pulang ke rumah, tak sabar ingin membuktikan janjinya pada wanita. Sesampainya di rumah, ibunya menyambut haru. Hari perayaan, harus disyukuri. Ia pun mengambil beberapa ribu rupiah dan memberikannya pada Bek. “Ibu belum belanja, tolong belikan telur seperempat. Ibu mau masak untuk kamu.” Bek tertegun, ribu rupiah sudah berada di genggamannya. Cobaan pertama bagi kebulatan tekadnya. Dia, preman paling disegani, dengan omset jutaan rupiah sehari, bisa membeli telur ribuan kilo, sekarang menggenggam uang kertas lecek, untuk membeli telur cuma seperempat kilo. Goncang. Goyah. Preman belanja telur? Mau ditaruh di mana mukanya? Mau bilang apa sama semua orang? Kini dia punya dua pilihan, pilihan yang sama beratnya. Siapa yang sangka telur seperempat bisa memberikan pilihan yang sedemikian berat? Dan dia harus memilih. Saat itu juga. Tiba-tiba pikirannya cerah. Ia tau apa yang harus dilakukan, apa yang harus dipilih. Dicium tangan ibunya dan ia pun melangkah pergi. Little does his mother know, kalau permintaan yang sangat sederhana itu, telah merubah total kehidupannya. He sticked to his words. Dan satu perasaan menyelinap di harinya. Satu kata. Ikhlas. Sejak saat itu, menghilang sudah satu lagi preman jagoan dari jalanan.
Sekarang Bek menginjak umur 40. Perjalanannya sudah sangat panjang. Perjalanan yang sangat berat jika dilihat dari mata orang awam. Tapi Bek bukan orang awam, dia laki-laki tangguh yang bertemankan keikhlasan. Kehidupannya berkecukupan, tidak lagi berlebihan seperti dulu. Tapi jiwanya kaya. Ia telah menemukan permaisuri, yang mempersembahkan putra mahkota bagi kerajaan hatinya. Hubungannya dengan Yang Di Atas semakin akrab. Mereka saling mengunjungi setiap saat. Ia bahkan ingin memperdalam ilmu untuk mendekatkan dirinya lebih jauh dengan-Nya. Mungkin ia tidak bisa menjadi Ustadz atau Da’i bagi orang lain, tapi ia ingin menjadi imam yang sempurna. Tato masih berbekas di tangannya, as a token of lifelong experience, and as a reminder of how people change.