It's been 1 day, 3 hours and 10 minutes since we last meet, and i'm missing you already.. Life can always go on, but it won't be as colourful as when I had you by my side. Feels like my heart has a hollowness inside, filled with nothing but memories to erase. Wonder if I can. Time with you is like a good night dream, so sweet not to enjoy, but too blur to be remembered. And I feel like waking up with tears running down my face, cause I realize those time will never happen again. My heart and my mind are battling inside. My ego and my conscience are trying to pull my way to their opposite paths. Common sense is always the right thing to do, but it certainly is not the easiest thing to do. If only I can turn back time, I wonder would I go to the first time we met, so that I won't have this kind of dilemma. But on second thought, I'd rather spend myself in constant heartache then having to spend the rest of my life without ever knowing you. Cos you make me feel precious, and I cherish every single moment I spent with you.. Hope I won't go crazy for missing you!
Idiot's Guide to First Time Backpacking to Singapore from Jakarta by Batam
Yup, if you are in a tight budget, going to Singapore by Batam most probably is be the cheapest way. First of all, instead of paying fiskal of 1 mill, you only have to pay 500 thousand rups. Second, if you're lucky, ticket to Batam supposedly is cheaper than ticket to Singapore. Third, less airport tax to pay (25,000 instead of 100,000 for international flights). But you would most likely spend more time to get there, so unless you have much time to spare, don't recommend to go this path.
When you've reached the Batam airport (I forgot the name), after you collect your luggage, go straight to the taxi counter. Tell them you need to go to Singapore by sea and ask to be transfered to the harbour (they have several harbour, any one of them will be fine. I went to the harbour in front of a mall, completely forgot the name. Just tell them "the harbour in front of the mall", i think that will do). The fare was 70 thousand (December 2005), flat fare, pay as you exit from the taxi.
Inside the harbour, go right and find the ferry counters, find a ferry that has the closest departure time, spare 30 minutes just to be safe. The fare would be S$ 17 for one way & S$ 18 for round trip (ridiculous price). Don't worry, you can pay in rupiah also. After you collect your ticket, find the tax counter at the left side of the front door. Pay the 500 thousand sea tax. Just show all your passport & ticket. If you have a luggage, register them to the luggage counter at the right side of the tax counter. Make sure they have the right ferry. If you want, you can just take your luggage with you, no limit of amount of weight of the things you bring inside the ferry cabin.
After taking care of your luggage, go to the 2nd floor, check in at the departure point. You & your belongings will be security scanned. Go straight down to the harbour and wait for your ferry to arrive. Be aware for the announcement from the information counter and ask the people there about your ferry. Just don't be afraid to ask, or else you will miss you ferry and have to buy a new ticket. Once your ferry arrives, get in and enjoy the ride. The journey took about an hour or so.
You will arrive in Harbour Front, get through the custom and enjoy Singapore!
Just when you think your life is getting better, one unfortunate event and another and another hit you so bad, made your brain freeze
Just when you think you can master a thing, something wrong goes in your way and ruin all it left behind
Just when you think you're in love with someone, loneliness came and you realized, you don't even miss him
Just when you think you know someone, it struck you in the face that you know sh*t!
How can I reach your heart?
How can I read your mind?
How can I be your sunshine?
Or is it too much too ask?
Beberapa minggu silam one of my best friend since junior high got married. Kebetulan paginya gue bela2in dateng ke akadnya (setelah sebelumnya tidur jam 3 pagi. kenapa ya akad selalu pagi2? gak tau weekend pagi otak gue gak maksimal apa?) dan gue nyaris nangis waktu ngeliat sahabat gue itu walking down the isle dan waktu doi sungkem sama bonyoknya. terutama waktu bagian bonyoknya ngasih doa restu. Bo, kalo gak ada orang yang gue kenal pasti gue serta merta nangis dah di situ (sayangnya adiknya penganten cowonya temen gue & kakeknya adalah dosen gue, jadi mau meraung2 juga tengsin). gokil, dulu gokil bareng, cupu bareng, dodol2an bareng, sekarang she looked so mature and starting her own family of her own. May you have a happy life Prittz! So happy for you bespren..
A friend of mine read what I’ve written about rational love, and all that she can comment on is.. “You’re so naïve deh! Pemikiran lo tentang cinta muluk banget, terutama di bagian berubah. Gak ada orang yang bisa berubah, jadi jangan mengharapkan orang bisa berubah. Jangan juga berpikir laki-laki bisa berubah demi lo. Energinya terlalu besar, terlalu capek. Dan kalaupun berubah, old habits die hard, bisa aja dia balik ke kebiasaannya yang dulu.”
Well, susah2 sekolah tinggi2, ternyata gue masih bego juga kalo urusannya cinta. Tapi emang bener orang gak bisa berubah? Apa bener gue gak bisa ngarepin seseorang untuk berubah? I really put some thought into it. Gue pikirin bener2, gue bayangin orang2 yang gue tidak akan expect akan berubah. More i think about it, makin gue percaya kalo orang justru gak bisa gak berubah. Ambil contoh si Bek misalnya (read my previous post), apa gak kurang berubahnya doi? Dari preman kelas paus (bukan kakap lagi) jadi orang baik2 gitu? (yah, gak baik2 amat sih, at least lurus lah jalannya).
Trus jadi keinget emil (ini nama sebenarnya. Halo mil, apa kabar?), the guy that changes a lot and changes me a lot too. dulu kerjaannya ikutan demo melulu, jago maen billiard, perokok berat, kerjaannya naek gunung. I don’t really know for sure what happened to him, but he turned around and all of the sudden, doi udah jadi anak musholla yang untouchable. I’m not saying it’s a bad thing, it’s good actually, tapi sayangnya he thought I was a bad influence and decided to keep away from me. Jadilah gue kehilangan pegangan dari satu orang yang dulu berarti banget buat gue. Benci? Banget! Benci banget sama dia, benci banget sama diri sendiri, benci banget sama segala sesuatu yang took him away from me. We didn’t talk to each other for almost a year when I finally realized gue emang absolutely nothing in his life, dari dulu sebelum berubah sampe sekarang pun. Jadi why waste my time juga ya? The guy that I used to cling on to is now gone, for good. Udah pindah ke dunianya sendiri. Sekarang doi udah kawin, udah mau punya anak. Dan yang mengherankan adalah I still cried my heart out when I heard the news of him getting married. Yeah, just when you thought he’s out of your heart, it struck you right in the face that a part of you still miss the old him. Bego pisan.
Dan kemarin pun gue smsan sama temen gue, di mana doi curhat udah fed up sama idupnya dan pingin berubah. Gue cuma bisa ngedoain bisa sukses, karena gue gak tau sejauh mana doi bisa berubah, dan yang paling penting, mau berubah. Kondisinya sama aja ama gue, tapi lebih parahan lagi, secara umurnya udah mau 30, belum slese skripsinya. Kerjaannya minum ama ny**eng ama maen perempuan. Buset, apa samanya sama gue ya? Hehe.. anyway, I really don’t know where to begin to change if I was him, karena lingkungannya menganggap minum ny**eng main perempuan adalah sesuatu yang gak melanggar norma. Oke, mungkin seeedikit keluar jalur, tapi masih tolerable. So it might be harder for him to change if his surroundings don’t expect him to change. Maksudnya, males aja kan kalo maen bareng, lagi nongkrong2 gitu, trus pada minum dan lo bengong sendiri karena gak minum. Bukannya gak mungkin, tapi akan lebih berat. Especially kalo emang doyan. Tapi gue salut sama tekadnya. Mudah2nya tekadnya sebulat bacotnya. Hehehe..
Dan gue jadi keinget sama salah satu sahabat gue dulu. Dulu perokok berat, dugem melulu, minum kuat banget. Sekarang gue sampe udah gak bisa ngenalin karena she left all that shit and mulai hidup sehat. No smoke, no drink, no fat. Jadi kurus banget boy sekarang! Gokil banget ya. Tapi emang tuh anak kemauannya kuat banget sih. Kalo udah keukeuh gak bisa dilawan.
From all my experience, finally I can defend my opinion on changes. Semua orang pasti bisa berubah. Masalahnya cuma mau apa enggak. Gue percaya semua orang punya potensi yang gak terbatas dan bisa ngelakuin apa aja, once you put all your might in there. Gue lama2 jadi percaya, gak ada kata gak bisa. Yang ada cuma, keinginan yang gak cukup kuat. Bukti nyatanya gue. I keep telling myself kalo gue gak bakal bisa kurus. Tapi sebenernya deep down inside, keinginan gue untuk kurus itu masih kalah sama keinginan gue untuk hidup enak. Maksudnya makan enak lah (karena kalau mau kurus = gak bisa makan enak). So, keinginan kurusnya gak cukup kuat untuk ngalahin keinginan makan enak. Motivasinya kurang strong. Jadi yang mesti dirubah tuh cuma mindset, kebulatan tekad & keteguhan hati. Buktinya manusia bisa jalan di bulan kok (walaupun orang bilang itu rekayasa), kenapa gak bisa sih cuma bikin satu perubahan kecil dalam hidup lo.
Ini juga yang gue lagi coba sekarang, ngerubah kebiasaan bangun mepet & nyampe kantor melipir. Lagi berusaha bangun lebih pagi jadi bisa berangkat & nyampe kantor lebih pagi. Setelah beberapa kali mencoba (yang baru 2 kali), ternyata jauh lebih enak. Jalanan belum terlalu macet, gue bisa parkir di basement (jauh dari matahari) dan bisa sarapan dengan tenang juga. Dan ternyata kurang tidur justru bikin gue lebih semangat & gak lemes (gue baru tau faktanya kalo manusia yang kebiasaan tidur lebih dari 6 jam tiap hari lebih besar kemungkinan untuk mati muda. Wooww.. begadang mari begadangg...). Keren ya? Gue yang kalo kuliah gak pernah on time. Yang kuliah jam 8 baru bangun jam 8 juga. Yang kalo tidur kayak kebo mati di sungai (ngalir gitu maksudnya). Bangga deh rasanya. (Kita lihat saja akan bertahan berapa lama perubahan ini) Maslow must be smiling in his grave by now.
So back to my conclusion, I do believe people can change, if they’re willing to change. Kalo balik ke masalah cinta-cintaan, can you change for the person you love? Mungkin ini the true test of love. If you love someone that deeply, you’re suppose to become one. As in you change for your partner, means you change for yourself. Tapi masalahnya, sometimes orang cuma pingin berubah demi supaya pasangannya gak pergi ato gak marah. That’s it. It’s that simple. Kalo gue berubah, pacar gue akan makin sayang sama gue. Mungkin itu sudut pandang yang mesti dirubah. You’re supposed to change to make yourself a better person, yang lebih pantas untuk dicintai, baik oleh diri sendiri maupun orang lain. A more worthy person. Lha, apa bedanya ya? Pemahamannya kali ya lebih dalem. Kalo yang pertama, sekedar dangkal untuk jangka pendek aja, kalo yang kedua lebih ke self-renovation, becoming a better self ke arah waktu yang lebih lama. Kalo bisa sampe ke akhir masa. But the second one may take longer, karena dilalui pake pengalaman, gak cuma teori aja. Banyak trial & error nya. Banyak ups & downs nya. Makanya kalo “cuma” niat pacaran doang, mungkin cuma dapet gondoknya aja, karena belum kedapetan hasilnya. Mungkin harus niatnya berbagi hidup, baru kerasa..
Bek (bukan nama sebenarnya), waktu masih muda, bisa dibilang preman paling diseganin di daerahnya (Bogor dan sekitarnya). Tato jadi atribut wajib di kanan kiri. Pengedar paling top seluruh Jawa. Penghasilannya jutaan sehari (dan itu tahun 80-90an). Kalo udah nunjuk orang, bisa lewat nyawa tuh orang. Perempuan satu demi satu dicoba, entah berapa jumlahnya. Untungnya (kalo bisa dibilang untungnya), gak ada yang tek dung. Sayangnya (kalau bisa dibilang sayangnya), hidup berkata lain. Kemujuran mulai bergeliat melepaskan diri dari cengkraman nasibnya. Salah satu wanitanya akhirnya terbukti subur dan satu jiwa baru menggandakan diri dalam rahimnya. Keluarganya murka. Tapi Bek bukan pengecut, ia akan tanggung jawab. Dihadapinya kemurkaan Sang Bapak, ia siap menikahi putrid kesayangannya. Sang bapak tambah murka. Aku tidak akan menyerahkan putriku padamu, katanya. Sang putri menghadapi dilemma 3 arah, Bapaknya, kekasihnya, jabang bayinya. Akhirnya ia pun mengikuti hatinya dan memilih Bek, against all odds. Ternyata bukan hanya Sang Putri yang mengikuti Bek, polisi sudah mencium jejaknya setelah beberapa lama dan mengumpulkan nyali untuk meringkusnya. Bek pun mendekam di bui. Tapi jangan disangka sepak terjangnya berhenti di balik teralis. Jual beli jalan terus, transaksi terus mengalir. Omsetnya sehari mencapai belasan juta. Tapi ternyata ada yang berubah dalam kehidupan Bek, sesosok wanita yang mengunjunginya setiap minggu. Wanita renta yang mengarungi puluhan kilo perjalanan setiap minggu dengan tubuh rapuhnya dan masakan untuk anaknya tersayang. Ada maupun tanpa ada yang menemani, ibunya terus menjenguknya, terus membanjirinya dengan limpahan kasih sayang yang dulu tak pernah dipedulikannya. Wanita itu dulu tidak pernah ia pandang sebelah mata. Tidak pernah dia anggap ada, signifikan, berpengaruh dalam kehidupannya. Kini setiap minggu ia dicecoki oleh perhatian dan cinta yang tulus dari wanita itu. Hatinya melunak, keberingasannya melemah. Di tempat di mana kekerasan merupakan hal utama yang membuatnya bertahan hidup, justru menjadi tempat di mana ia merasakan kelembutan yang tak terbatas. Tatapan dan sentuhan ibunya membuatnya bertekad, bahwa ia tidak akan pernah membuat wanita yang berdiri di hadapannya ini kecewa. Tidak akan pernah. Dan ia adalah laki-laki yang penuh tekad. Yang memegang teguh janji yang dibuatnya.
Dua tahun berlalu, Bek akhirnya keluar bui. Ia pun pulang ke rumah, tak sabar ingin membuktikan janjinya pada wanita. Sesampainya di rumah, ibunya menyambut haru. Hari perayaan, harus disyukuri. Ia pun mengambil beberapa ribu rupiah dan memberikannya pada Bek. “Ibu belum belanja, tolong belikan telur seperempat. Ibu mau masak untuk kamu.” Bek tertegun, ribu rupiah sudah berada di genggamannya. Cobaan pertama bagi kebulatan tekadnya. Dia, preman paling disegani, dengan omset jutaan rupiah sehari, bisa membeli telur ribuan kilo, sekarang menggenggam uang kertas lecek, untuk membeli telur cuma seperempat kilo. Goncang. Goyah. Preman belanja telur? Mau ditaruh di mana mukanya? Mau bilang apa sama semua orang? Kini dia punya dua pilihan, pilihan yang sama beratnya. Siapa yang sangka telur seperempat bisa memberikan pilihan yang sedemikian berat? Dan dia harus memilih. Saat itu juga. Tiba-tiba pikirannya cerah. Ia tau apa yang harus dilakukan, apa yang harus dipilih. Dicium tangan ibunya dan ia pun melangkah pergi. Little does his mother know, kalau permintaan yang sangat sederhana itu, telah merubah total kehidupannya. He sticked to his words. Dan satu perasaan menyelinap di harinya. Satu kata. Ikhlas. Sejak saat itu, menghilang sudah satu lagi preman jagoan dari jalanan.
Sekarang Bek menginjak umur 40. Perjalanannya sudah sangat panjang. Perjalanan yang sangat berat jika dilihat dari mata orang awam. Tapi Bek bukan orang awam, dia laki-laki tangguh yang bertemankan keikhlasan. Kehidupannya berkecukupan, tidak lagi berlebihan seperti dulu. Tapi jiwanya kaya. Ia telah menemukan permaisuri, yang mempersembahkan putra mahkota bagi kerajaan hatinya. Hubungannya dengan Yang Di Atas semakin akrab. Mereka saling mengunjungi setiap saat. Ia bahkan ingin memperdalam ilmu untuk mendekatkan dirinya lebih jauh dengan-Nya. Mungkin ia tidak bisa menjadi Ustadz atau Da’i bagi orang lain, tapi ia ingin menjadi imam yang sempurna. Tato masih berbekas di tangannya, as a token of lifelong experience, and as a reminder of how people change.
Kalau ada yang nanya sama lo sekarang, menurut lo cinta rasional apa irrasional? Gue yakin banget hampir semua orang akan jawab yang kedua. Iya lah, makan tai kambing serasa coklat kan kalo lagi jatuh cinta katanya lagu. Tapi itu dulu, jaman jebot. Sekarang setelah gue liat2 lagi, sekarang udah banyak orang yang mulai gak percaya sama cinta. Tai kucing cinta katanya. Makan tuh cinta katanya. Hari gini ngomongin cinta katanya. Semua itu kan sebuah pertanda kalo orang makin lama makin gak percaya sama cinta. Ambil contohnya aja temen gue yang tidak akan gue sebutkan namanya. Doi htsan sama cowok, yang menurutnya masa depannya gak jelas, as in gak lulus kuliah, kerjanya gak jelas, gak ada juntrungan, keluarganya juga kayak gak ada keinginan untuk ngeliat dia sukses. Kalo dibilang sayang, gue yakin dia sayang. Tapi dibilang cinta, entar dulu. Buktinya dia gak mau pacaran, sekedar hts dan ttm walaupun kegiatannya gak jauh beda sama status pacaran. Alasannya adalah, karena tuh cowok gak bisa menjamin kehidupannya dan keluarganya di depannya. Itu aja, so simple. Bukan karena beda agama, bukan karena beda prinsip, bukan karena beda pandangan. Tapi karena kemapanan, jaminan di masa depan. Menurut gue konsep itu masih gak masuk akal. Gue masih masuk jajaran orang yang percaya sama cinta. Menurut gue, kalo lo sayang sama orang dan dia juga sayang sama lo, kalo lo ngerasa nyaman sama tuh orang dan dia juga nyaman sama lo, kenapa lo gak bisa bareng. Kalo menurut gue, harusnya hambatan yang jadi rintangan lo berdua bareng yang harusnya diilangin, bukan elo berdua yang harus gak bareng. Tapi nyatanya banyak banget orang yang akhirnya nyerah dan milih gak bareng aja daripada maksa. Sampe sekarang sih temen gue yang itu masih bareng ama cowok itu, and I do really hope that they stay that way coz they deserve each other.
Jadi balik lagi ke apa yang mau gue omongin adalah, emang cinta sekarang udah gak irrasional lagi ya? Maksudnya, sekarang udah gak bisa ngeliat cinta pake hati, tapi pake otak. Pake itung2an masa depan. Pake dibayangin kalo punya keluarga bareng akan bisa idup apa enggak. Sometimes mungkin orang yang bersama lo bukan orang yang paling pingin bareng, tapi mungkin orang yang paling masuk akal untuk bareng lo. Dengan kata lain, mungkin justru balik lagi ke masa Bibit Bebet Bobot. Sekarang trennya orang udah ngeliat itu lagi. Kalo dibilang “Mau gue jodohin ga? Anak jendral lho..” pasti mata orang yang bersangkutan dan mata orang yang ngomong akan beda dengan kalo “Mau gue jodohin ga? Anak manajer lho..” Financial security udah balik lagi jadi hal yang penting banget. Gila lo, anak jendral, kayanya tujuh turunan kali. Gak usah mikir lo idup, tinggal ngangkang sama bikin anak apa susahnya sih? Susahnya di hati. Beratnya di pikiran bung. Mungkin karena pada dasarnya gue orang yang percaya orang dilahirkan serba bisa, as long as lo cukup punya kemauan, jadi gue percaya semua orang bisa kaya kok, bisa sukses, asal lo cukup mau untuk susah. Balik lagi ke prioritas idup kali ya? Apa sih yang lo cari dalam idup? Terus terang, dulu gue akan jawab uang. Tapi sekarang setelah (sedikit) beruang, gue ternyata gak jadi bahagia juga. Apa kurang banyak kali uangnya ya? Tapi kalo banyak uang pun mau diapain? Paling dibeliin rumah, dibeliin mobil, buat belanja, buat jalan-jalan. Emang bikin bahagia. Kalo dirunut lagi, buat apa lo punya rumah bagus, gede, mewah di Pondok Indah, kalo lo tinggalin sendiri. Buat apa lo punya Jaguar, keren, bisa ngebut, kalo lo ngebut sendiri? Buat apa lo belanja baju, sepatu, tas, kalo gak ada orang yang bisa ditunjukin dan bilang bagus? Buat apa lo jalan-jalan keliling Eropa, ke tempat-tempat bagus dan romantis, kalau lo gak sama orang yang tepat? Percaya deh, pada akhirnya akan kerasa kosong juga. Hampa. Gak berbekas. Gak signifikan. Gak jadi memori yang menyenangkan. Jadi kalau sekarang gue ditanya, apa sih yang akan bikin lo bahagia? Gue akan jawab, nemu pasangan hidup gue, jodoh gue, belahan jiwa gue, orang yang gue pinginin, dan pingin berbagi hidup sama gue, orang yang akan menganggap gue orang terpenting dalam kehidupannya dan akan gue anggap orang paling penting dalam kehidupan gue. Picisan? Pastinya. Tapi itu yang gue rasain sekarang, dan paling gue pinginin sekarang. Karena gue udah ngerasain (walaupun dalam skala yang super mikro) punya rumah sendiri, punya mobil sendiri, belanja foya2 dan jalan2 ke tempat bagus. Dan yang gue piker cuman, God, I wish I’m here with someone. A house is just a building without being with someone. Basi banget. Cupu berat.
Jadi kalo ditanya, apakah gue bahagia sekarang dengan status kejombloan gue? Hmmm.. it will take a lot of time to answer, karena kalo berdasarkan definisi bahagia gue, harusnya I’m not happy, tapi gue gak bisa pura2 gak bahagia. Gue ketawa kok. Setiap hari. Tulus gue ketawanya. Dan kalo dipikir2, harusnya gue gak punya alasan untuk gak bahagia. Gue punya keluarga yang gue tau cinta banget sama gue. Gue punya temen2 di sekitar gue yang bisa diajak ketawa, at least for the time being coz we’re in the same environment. Gue punya mimin mobilku yang setia walaupun suka pundung. Kamar kos gue nyaman. Rumah gue enak walaupun jauh. Gue masih punya duit buat makan. Gue masih punya kasur untuk ditidurin. Gue masih punya udara untuk bernapas. Gue masih punya mata untuk ngeliat. And the list continues. So I don’t have any reason why I shouldn’t be happy. Tapi pada kenyataannya, I feel like I’m not completely happy, gak pol maksimal bahagianya. Kayak masih ada yang ilang aja. Mungkin itu yang masih belum gue dapetin dari kejombloan sialan ini.
Trus balik lagi ke pembahasan sebelumnya (okay, I’m losing track, I know), cinta menurut gue seharunya sesuatu yang irrasional, yang lo liat pake hati, lo rasa pake emosi. Lepas dari hitung menghitung, lepas dari syarat-syarat, lepas dari bibit bebet bobot. Tapi itu kan gue, secara bisa dibilang gue masih belum pernah ngerasain cinta yang beneran. Makanya gue bilang seharusnya kayak begitu. Tapi gue juga gak bisa bilang bibit bebet bobot gak berefek. Orang2 lain yang gue liat, yang sibuk gonta ganti cinta, pada akhirnya fed up sama cinta dan milih orang yang masuk akal. Contoh : misalnya lo harus milih antara 2 cowok, umurnya sama, bentuk fisiknya let’s say sama. Cowok A belum kelar kuliah, kerjaannya gak jelas, freelance sana sini dan gak ada rencana untuk kerja kantoran (walaupun duitnya lumayan juga), suka mabok, gak pernah shalat, tapi baiiiik banget. He really knows how to treat women lah. Gentleman. Kalo ngobrol bisa nyambung bgt. You feel like you can be your true self in front of him. Mari kita lihat kontestan cowok B. Lulusan S2 luar negeri, kerja di perusahaan gede, mau dipromote jadi manager, anak orang kaya. Lurus banget, gak ngerokok, gak pernah minum, shalatnya pol. Baik sih baik, tapi gak bisa menservice lo, dengan kata lain lo gak bisa manja2 lah sama dia, padahal lo suka banget manja sama orang lain. Kalo gue, sejujurnya akan milih cowok A, secara gue ngejar nyaman. Tapi tetep ada sesuatu dalam otak gue yang mikir. Gila apa, mau jadi apa lo sama dia? Secara gue juga bukan orang yang lurus gitu. Kasih orang yang gak lurus juga, apa gak bengkok2 jadinya? Jadi sisi rasional gue akan bilang untuk memilih cowok B, karena masa depannya lebih cerah dan kalau dari sisi agama, bisa jadi imam yang baik lah untuk keluarga. Kalo boleh nih pinjem lacinya doraemon, pingin banget gue liat masing2 pilihan, apa yang akan terjadi kalau gue milih salah satu. Teorinya adalah, gue akan hidup makmur tapi gak bahagia sama cowok B, dan hidup tak makmur tapi bahagia sama cowok A. itu kan teori. Pada kenyataannya mungkin gak ada segamblang itu. Bisa aja gue jadi cinta karena terbiasa (kalo katanya Dewa) sama cowok B dan hidup makmur dan bahagia. Bisa jadi juga cowok A insyaf dan mulai kerja yang bener (as in lebih giat bekerja mencari proyekan. Hehe..) dan I end up hidup makmur dan bahagia juga sama dia. Tapi hal yang jelek2nya juga bisa aja terjadi. Bisa aja si cowok B tiba2 dipecat tidak hormat dari kantornya dan gak bisa dapet kerja di mana pun, dan bisa aja si cowok A tiba2 affair sama cewe lain, dan akhirnya gue end up tidak makmur dan tidak bahagia juga. Hahaha.. dilematis bukan? Balik lagi ke sisi rasio atau emosi yang kerja. Kalo rasio yang full control, kadang emang harus ngorbanin perasaan, ngorbanin rasa nyaman, tapi lo gak harus banyak mikir di kemudian hari. Kalo emosi tok, mungkin lo akan bahagia, tapi harus banyak berpikir juga. Kalo gue pribadi sih, gue mikir juga, gue sih fine sama orang yang ancur, as long as punya kemauan untuk lurus. Kan balik lagi ke semboyan utama, manusia dilahirkan serba bisa. Bisa kok lurus, asal cukup kenceng maunya. Dan harapannya kan gue bisa jadi sumber kemauan yang cukup penting untuk bisa ngerubahnya. Dan kalo gue rasa juga, makmur yang dirintis bareng kan lebih enak ya daripada yang udah dikasih makmur, kalo ada apa2 malah kalang kabut lagi. Kebiasa idup enak, dikasih susah dikit jadi lebih berat rasanya.
So, my point is, cinta is irrasional apa rasional ya? No no, better make it this way, mending milih rasio apa emosi dalam milih cinta? Kayaknya pertanyaan ini gak bakal bisa gue jawab ya, selama masih belum nemu cinta yang beneran. Tar kalo udah, mungkin pertanyaan jebakan batman ini baru bisa dijawab. Meanwhile, just enjoy the love that you got and be thankful that it’s there for you.
Hihi., basi bangeet gitu ya, udah kayak pelajaran pancasila* jaman sekolah. Tapi beneran deh, setelah mengecap jalan2 ke negeri tetangga, gue baru nyadar betapa bahagianya gue jadi orang Indonesia. Walopun rusuh, ga teratur, korupsi, dll, tapi gue tetep bangga jadi warga Indonesia. Kenapa? Karena begitu ramahnya orang Indonesia dong.. gila lo, di sana perasaan kagak ada orang yang senyum. Masuk toko aja perasaan gak ada yang senyum tulus. Makan di pinggir jalan, even if yang jualan ibu2 pake jilbab, tetep aja jutek. Naek taksi supirnya bisa marah2in gue. Duh, gue bisa gila deh. Secara gue terbiasa dengan orang2 yang mau senyum balik kalo disenyumin. Mau bales kalo disapa. Mau jawab kalau ditanya. Mau Bantu kalau dimintain tolong. Di sana? Hmm.. boro! Mukenye senep semua kayak semua beban idup dilimpahin ke bahunya. Pliss dehhh... kenapa sih? Makanya pas nyampe Cengkareng lagi, betapa bahagianya melihat petugas imigrasi yang tersenyum balik waktu disenyumin. Bilang “kembali” waktu gue bilang makasih. Dan betapa bahagianya ketemu porter yang bersedia jawab tempat ambil trolley dan nunjukin di mana gue harus ambil bagasi. Asli deh, gue jadi bener2 gak pingin tinggal permanen di luar negeri, padahal dulu gue pinginnya setengah modar. Untuk cari duit mungkin bisa tahan setaun dua taun, tapi permanen? Oh no way.. secara waktu gue di Bandung, I can get around Bandung by angkot, sendirian, dengan hanya berbekal “Maaf, numpang Tanya.” And everyone will be glad to show you what to take dan turun dmana, bla bla bla.. di sana? Ngobrol gih sana sama buku petunjuk bus. Emang sih sistemnya udah rapi bener, jadi mungkin orang juga gak expect lo untuk nanya ya. But still, secara gue orangnya males mikir, daripada melototin peta, kan mending nanya orang. Beres dalam hitungan detik, asal orang yang gue Tanya gak sok tau. Nanti kejadiannya kayak waktu gue nyasar di Sukajadi luar kota Bandung. Tapi yang penting intensinya untuk membantu itu lho.
Ada survey di Reader’s Digest yang bilang orang Indonesia pemarah. Gue sendiri belum baca isinya sih. Cukup mengagetkan juga judulnya, tapi understandable, karena pada dasarnya orang Indonesia basic needs nya belum terpenuhi, jadi gak bisa diharapkan banyak dari segi stabilitas emosi. Even gue pun yang notabene udah ngerasain sekolah tinggi sama kerja di kantoran, masih ngerasa masih labil banget emosinya. Kadang bisa seneng banget, tapi kalo lagi down (terutama pas lagi mau dapet) bisa misuh-misuh gak keruan. Gimana yang kerjaannya tiap hari kerjaannya minta-minta? Bukannya ngerendahin profesinya, tapi dengan karakteristik kerjaan gue yang ringan, rutin, ber AC, lingkungan kerja yang menyenangkan & customer yang cooperative, bandingin dengan pengemis ato pengamen yang panas2an di samping jalan raya, ngirup asep, nelen debu, panas matahari terik, diusir2 sama pengemudi mobil. Teorinya kan harusnya level stressnya lebih tinggi, jadi bikin emosi yang lebih tinggi juga. Tapi ya sudahlah, that’s the way it is. Tapi yang pasti, gue cinta banget jadi orang Indonesia. Hidup Indonesia! Merdeka!
(* Ngomong-ngomong pancasila, gue baru nyadar kalo gue udah gak afal pancasila! Gila, 5 aturan yang mendasari kehidupan di negeri gue lho, dan gue gak afal. Thanks to Ebin & Tisa yang meminta gue untuk bacain pancasila, gue jadi nyaho kalo gue gak afal, dan jadi wondering, berapa banyak ya anak muda di Indonesia tercinta ini yang masih afal pancasila. Yang jelas, 2 orang itu afal, dan mereka dua2nya kerja di luar negeri. Apakah itu suatu pertanda?)
God! It’s great to write again! Setelah diinget2, sejak kerja gue udah gak pernah nulis lagi. That means, udah hampir 5 bulan! Gila, udah 5 bulan gue kerja. Sesuatu yang dulu adalah momok yang menakutkan banget buat gue, sesuatu yang gue bener2 hindarin sampe gue bela2in kuliah lagi cuma demi menghindari kerja. Sesuatu yang gue pikir akan bikin hidup gue rutin banget dan gak menyenangkan lagi. 5 whole months aja gitu. Gila gila gila.. setelah kerja gue juga belum sempet kontemplasi, mikirin apa yang mau gue kerjain sih dalam hidup. Dan sekarang setelah mode kontemplasi udah on, gue baru menyadari betapa banyak hal yang ilang dalam kehidupan gue. Yang paling berasa signifikan adalah temen. I really can understand now what separates “usual” friend with true friends. Asli, kerasa banget gue sekarang, betapa gue gak banyak punya temen sejati. I guess I spent all my life making new friends, I forgot to maintain all the old ones. And it turned out you can’t really hope everyone to be your true friends. Anjrit, gak ada gunanya dong gue selama ini temenan? Ternyata kualitas suatu pertemanan bener2 gak sama dengan frekuensi ketemu. Kualitas suatu pertemanan kayaknya lebih berbanding lurus sama kualitas pertemuan itu sendiri. Tapi setelah dipikir2 juga, kualitasnya juga relatif dari orangnya. Yang menurut gue bermakna, mungkin gak dianggep sama sama orang lain yang bersama gue. Dan pada akhirnya lo tetap akan sendiri. You’ll end up fighting alone, can’t really rely on anyone’s shoulder anymore to cry on. Can’t really hope that your so-called-friends will call you on your birthday and wish you happy birthday. You can’t even trust they’ll come to your funeral when you’re dead. Gue ngerasa itu banget sekarang. Semua orang udah sibuk sama kehidupannya sendiri2, pacarnya sendiri2, suaminya sendiri, kerjaannya sendiri2. So by the time lo ketemuan, yang biasanya jadi event yang seru dan menyenangkan turned out to be basi aja. Kayak formalitas, kayak gak menikmati. Dan saat lo pulang pun lo tau lo gak ada menyimpan ketemuan hari ini dalam memori yang cukup berarti untuk disimpan. And you’ll expect them to do the same. Mungkin pada akhirnya balik lagi ke kualitas hidup lo juga ya, dengan kata lain, sepenting apa sih lo dalam kehidupan orang lain? Tapi sejauh apa juga sih seorang teman bisa jadi penting dalam kehidupan seseorang? Kalo buat gue sih jelas, penting banget punya temen. Tapi mungkin makin ke sini gue udah tidak menunjukkannya dalam perilaku ya. Terlalu sibuk dengan rutinitas kerja, jadinya udah gak punya waktu untuk just call and say hello. Even if you do, bisa jadi orang yang lo telp akan expect lo untuk punya urusan dan bertanya “Ada apa?” “Kenapa?” Padahal kan gak harus ada apa-apa dan kenapa-kenapa untuk sekedar nelpon dan bilang halo apa kabar? Ya gak sih? Apa normanya udah berubah? Harus ada urusankah untuk menelpon orang? Apakah menanyakan kabar dan bertegur sapa udah bukan urusan orang lain lagi? Jadi gak boleh tau? Yah, tapi mungkin gue juga melakukan hal yang sama sih sadar gak sadar. Buktinya pas kemaren si Okto nelpon pas gue lagi di Malang, otomatis gue jadi nanya ada apa. Trus gue baru mikir, eh, kenapa gue nanya ya? Ternyata gue gak konsisten juga ya. Gak suka digituin tapi gituin orang. Tapi hari ini gue seneng banget, karena my long lost soulmate (aiiihhh.. soulmatee…) Titut tiba2 nelpon dan ngobrol panjang lebar. She eventually ends up in Bali dan kerja di sana. Gila, gue piker, betapa jalan hidup orang bisa jauh banget pisahnya. Siapa yang nyangka sih gue ama titut yang waktu smp udah kayak kembar saking kemana2 bareng, sekarang bisa pisah dunia gitu? Me doing my routine here in Jakarta, dan doi just being creative in her own way out there di Bali. Gokil banget. But at least it’s good to know she called just to know how I’m doing. Bagi2 cerita, ketawa2 bareng. It really is good to know there’s someone out there who still thinks of you and decided to talk to you when she held the phone. It’s good to know there’s someone out there who still nganggep kabar tentang lo cukup berharga dan sepadan dengan harga pulsa yang dikeluarin. And it’s good to know I’m still important enough in someone’s life, walaupun kita udah bertahun-tahun gak ketemu. Maybe ini yang ngebedain juga true friends and so-called friends. Intensitas ketemu ternyata tidak berbanding lurus sama kualitas persahabatan. Kalau Einstein masih hidup, kayaknya gue pingin minta rumus pertemanan sama doi, pasti makin keriting aja doi. Hihi..
Yup, setelah beberapa lama musuhan dan gak omongan, akhirnya gue baikan juga sama Tuhan. Ternyata emang bikin lega ya baekan sama Tuhan, gue jadi lebih ikhlas sama kejadian2 yang ada di hidup gue..
More or less, that's my favorite quotation from "100 Girls". It's the first philosophical teen movie I've seen seen. It may seem like a reguler, shallow, ordinary teen movie, but I got so many lessons about the relationship between men & women. How men & women have so different perspective about a lot of things and how they respond so differently to events that happen to them. Another thing I learned that guys DO have anti-intimacy field that protects them from looking weak in front of girls.
And eventually, we all just have to try to understand one another and be a humanist..
Suatu hari saya parkir di pinggir jalan nungguin temen saya ngambil atm barengan sama temen saya yang satu lagi. Tiba-tiba ada bencong lewat, dan temen saya yang nemenin saya di mobil -cowo- otomatis ngunci pintu dan bergidik. Trus saya jadi mikir, kenapa ya cowo takut sama bencong?
Dulu waktu jaman2nya ospek angkatan2 di atas saya, konon ada satu maba cowo yang tangguh banget, sama sekali gak mempan biar dibentak-bentak dan dihukum kayak apa pun. Sampe suatu saat dia dibawa di satu ruangan yang isinya senior2 cowo yang pada telanjang dada dan pada elus-elusan alias saling membelai. Langsung deh dia gemeter dan mau nurut.
Dulu saya pernah nonton b*kep rame-rame sama temen-temen saya. Begitu dipasang, ternyata adegannya cowo sama cowo. Langsung semua temen cowo saya teriak dan tutup muka pake bantal. Pokoknya reaksinya berlebihan deh. Padahal kita yang cewe tenang-tenang aja, even pas adegannya lagi cewe sama cewe. Pas ditanya mereka ngakunya jijik banget kalo ngeliat yang kayak gitu.
Saya sendiri berpendapat kalo semua ketakutan itu sebenernya ada satu sumber. Contoh : saya takut banget sama hantu, sama takut banget naek kora-kora di dufan. Itu semua karena saya takut mati, soalnya dosanya masih banyak. Jadinya saya takut sama semua hal yang mungkin menyebabkan kematian (hantu bisa bunuh orang ga sih?).
Kalo dirunut-runut, saya jadi berkesimpulan kalo semua cerita itu intinya cuman satu : ketakutan cowo kalo dia bakal dim*non, jadi kehilangan ke"lelaki"annya alias kejantanannya.
Pas saya kemukakan kesimpulan yang brilian itu, temen saya cuman komentar : "Ya ilah, gue masih harus mikirin kuliah, anak istri gue mesti gue pikirin kasih makan apa, penting ga sih mikirin fobia-fobiaan?"
This is the same dilemma with : "what comes first : chicken or egg?". As I watched so many couples have problems in their relationship coz one of them's acting really nuts, I often wonder, why do people tolerate their couple's weaknesses.
Like I once knew this girl whom, I think, really has many bad traits and if I positioned myself as a guy, I won't be interested in her at all. But turns out she got a boyfriend eventually and this guy always complains about her "bad traits". They lasted for a few months though.
So I found this annoying idea, which comes first in love : you love someone AND THEN like everything about him/her -or- do you like everything about him/her AND THEN you fall in love with that person?
I personally think it's the second choice, coz if it's the first, then the question would certainly add up : what make someone fall in love? Is it just physical? Or is there more mystical way to explain the chemistry?
Arrggghhh...!!! Kok ada ya orang yang sama sekali gak mau ngerasa bersalah? :evil: Gila ya emang tuh orang?! Iiihhh.... Jijiiiiikkkk!!!!! Di mana2 sih orang at least nanya dulu ya salahnya di mana, lah ini? Don't even have the guts to ask ato emang pridenya ketinggian aja ya? Emang dasar t*i tuh orang! Ih, gue gak tau kalo I have the capability to hate someone this much. Sebodo deh lebaran, makan tuh minal aidin! I hope you die in hell, Bitch! F*ck off!!
Hah! Sekarang gue tau kenapa gue mesti ngambil S2 sekarang dan bukan besok2annya... It's just a phase that I gotta get through. When I graduated S1, kampus masih seru banget, anak2 masih banyak yang nongkrong di kampus, jadi kalo gue kerja pas saat itu, pasti gue kerjanya juga gak tenang karena bawaannya masih pengen nongkrong aje. tapi sekarang pas gue S2, anak2 udah pada menghilang. Sekarang kampus penuh dengan anak2 baru yang gue ga kenal (dan gak berusaha pengen kenal juga sih). Temen2 gue udah pada kerja semua, udah pada jadi orang HEBAT! semua. Nah, kan kalo kayak gini semangat gue untuk pengen kerja jadi menggebu-gebu tuh, jadi kalopun kerja udah bisa tenang, udah puas nongkrongnya.
Well, hebat juga ya Tuhan bikin rencana buat gue? Dipikirin aje tuh semua2nya. Thanks God!
as I graduated from college, I began to think, will my friendship with friends from college stay the way they were, or will we separate and go our own ways? I decided I won't be one who got away first (since I graduted early and my pals are still in campus working on their final project), so I signed up for post graduate. but turned out that our friendship DID got away so quickly. one by one they all got a job and gone, never contact me anymore, never even called to see how I was doing. there are some that's still unemployed, but treated me just the same. never even bother to show up in campus. can't blame them though, it's not fun to hang around here anymore. new kids don't blend in with us (the old ones), and don't seem to try at all. this thing really makes me sad, coz in the old days, new kids and old ones really blend in together and hang out together too. i remember back in the old days when we used to hang out till late at night every single day, just singin' or playon' cards or just chatting. we used to know one another (it's a very small campus you know), even though not close, but at least we knew names and faces. well, I guess time changes everything..
not fair! everybody's having their holiday while I'm still stuck here doing reports for my so-called homeworks. Yesterday I was going to the mall and guess what I saw? Kids! Lots of 'em running around, screaming like I ain't got no ears. God, I hate kids! though I had to admit there are some that's cute.. I'm definitely not a mother material. damn..
Huaaa.. wanna go to europe! I really don't ask much you know, just a ticket to germany (coz I got a friend there) or england (got a friend there too) and some thousand euros to go around (hehe, not much eh?). I can always go backpacking, don't really need fancy hotels or restaurants. Am i asking too much?
Well, maybe I can just sell my car and go there.. that is IF it's worth that good.. damn damn damn...
Why oh why do I have to be sooooo creative and take a training like this?!! This is the worst spending in my entire life! Yes, more than anything else I bought (including that bag that I never use until today). HHhhh... And imagining how I had to wake up early in the morning (7 A.M on Saturday! that's considered dawn, you know..) and took a 6.000 ojek ride, just to make it in time, sickens me. Coz what I thought the training started at 8, turned out at 9! Hah! I could've slept longer! Bastard!
And now, once it started, doesn't get any better at all. the trainer sucks! Must've scored 0 for Communicative competency and 0 for any other competency that's related with the capability of teaching. Stupid training! I'm here for 2 hours and all I've learned about Dreamweaver is how to insert table and background. I could learn THAT in 5 minutes! Using tutorial would be muuuuuuuuuuch easier... Arrrrrrrggggggghhhhhhhh!! !!!!!
Please remind me NNNEVER EVER EVER EVER join another training held by an institution called K___nitas D__a (please be creative and fill the blank). Hah hah hah.. Hate you!
kemaren abis baca2 chicklit baru tentang kawinan, trus tiba2 aja jadi kepikiran lagu yang akan gue pake nanti kalo kawin (pastinya gue gak mau gamelan). untung gue udah punya penyanyi yang bersedia dan available dan suaranya bagus (sujasfin judika dewantara nababan, 0899000.. mmm.. lupa), tapi pas meninjau lagu2 yang gue sukain, i just realized, semuanya LAGU SAKIT HATI! contoh :
show me the way back to your heart == abis putus sama pacar trus pengen balik
why does it hurt so bad == abis putus sama pacar trus nyesel tapi gak mau balik
unbreak my heart == abis putus sama pacar trus bersedih2 ria
careless whisper == abis putus sama pacar trus nyesel
haduh haduh haduuuhh.. kenapa begini ya? apa secara tidak sadar gue udah jadi apatis sama kehidupan cinta gue sendiri? haduh haduh haduhhhh...
akhirnya kesampean juga gue nonton salah satu konser idaman, walaupun harus berdiri dari jam 10 pagi sampe jam 6 sore (which means 8 jam) dengan perut kosong karena terakhir kali makan jam setengah 10. walaupun harus empet2an sama berapa ribu orang, walaupun digrepe2 sama orang ga jelas, walaupun harus rela dipanggang di bawah sinar matahari ancol yang kian terik nan membakar, walaupun kulit menjadi gosong dan hitam, BUT IT WAS ALL WORTH IT! Gila, puas banget dahh.. bandnya, performancenya, rusuh2nya, pas banget. semua oranng (di panggung) jadi ganteng gitu.. linkin park rocks banget deehhhh.. sekarang tinggal 1 konser lagi yang mesti ditonton : N*SYNC!
this line popped into my head when i was shooting pool. sering banget kl lg maen trus gue tau nih rasanya kayaknya kl gue mukulnya gini bolanya gak bakal masuk, tapi tetep aja dipukul. hey, otak filosofisku langsung mengaitkan kejadian ini dengan kehidupan..
manusia kan punya intuisi (no, not intuition dalam rangka sixth sense ato ESP ato semacam itu) yang berasal dari pengalaman. some people use this intuition to guide their actions and some people don't. sebenernya pada dasarnya gue percaya sama ketajaman intuisi gue, tapi entah kenapa, gaaa pernah digubris. padahal kalo dipikir2, kalo aja gue pake intuisi, mungkin hidup gue akan jauh lebih gampang sekarang. baru mungkin siihh..
morale of this storyless story : PLEASE! trust your intuition for once in a while..
just spent the whole last weekend watching the last season of sex and the city. i just LOVE the ending, it's all that I'd expected it would be. Miranda with Steve, Carrie with Big (oops, sorry to all of you who still hasn't seen it yet..). What amazes me is the characters' friendship. so many personalities, one friendship that holds them together. even though there are some that's contradictary (like Charlotte the optimist for love and Miranda the sarcastic), they all can be themselves and accepted for what they are. And what amazes me the most is how they NEVER fight over the same guy. although they thought there wasn't enough eligible bachelor in New York,but when one of them found one, they respect it and don't try to take him. Ahh.. that's what I call Friendship..
Sebenernya udah nontonnya minggu lalu, tapi baru inget kalo mau nulis tentang film ini. Kalo udah nonton Sliding Doors, menurut gue film ini temanya sama. How your whole life could change just because one single moment in your past. Asli, keren banget! Sayangnya ada yang gak setuju, ada aja yang bilang filmnya aneh. Padahal sumpah deh, keren benge..
Abis nonton tuh film gue jadi annoying berat gitu. Keluar dari bioskop dilema, mau lewat atas ato lewat bawah. Abis itu dilema lagi, mau makan atau mau nongkrong. Trus dilema lagi, mau makan di mana. Semua keputusan can change my whole future! Siapa tau gue memilih restoran yang salah, padahal harusnya gue masuk ke dalam restoran di mana gue akan ketemu calon suami gue? Ato seseorang yang gue kenal dan ngasih proyekan? :roll: Too many choices! Untung fase dilemanya gak lama2 (yah, paling cuman bertahan sekitar 10 menit).
Afterward, gue jadi wondering lagi . Kl gue waktu kuliah memutuskan masuk Atma aja, gimana ya. Kl gue abis lulus langsung kerja aja, gimana ya. Kl waktu itu gue gak bawa seseorang, gue akan masih temenan gak ya sama orang itu. Arrrgghh... Ternyata masih belum bisa forgive and forget.. (lihat posting2 di bawah)